Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Zaid, Ini Adalah Ketidakadilanmu yang Pertama

Ubay bin Ka’ab adalah seorang sahabat yang berasal dari Bani Najjar, Madinah dan bernama lengkap Abu Al-Mundzir Ubay bin Ka’ab bin Qais Al-Anshari Al-Khazraji. Sebelum memeluk Islam, dia adalah seorang pendeta Yahudi untuk Kota Yatsrib yang mahir membaca dan memiliki pengetahuan yang luas tentang agama Yahudi.

Tak aneh jika tentang diri sahabat yang satu ini, Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam berucap, “Umatku yang paling ahli membaca adalah Ubay bin Ka’ab.”

BACA JUGA: Ini Perintah Rasulullah, Tatkala Ubay bin Ka’ab Menemukan Kantong Berisi Dinar

Selepas memeluk Islam, tokoh yang terkenal berpengetahuan luas ini diangkat menjadi seorang pencatat wahyu dan orang pertama yang menuliskan wahyu bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dan terlibat dalam panitia penghimpunan al-Qur’an pada masa pemerintahan Utsman bin Affan.

Merasa tidak terima dengan perdamaian yang dikemukakan ‘Umar bin Khattab. Ubay bin Ka’ab pun mengadukan sang khalifah ke pengadilan yang kala itu dipimpin oleh Zaid bin Tsabit. Umar pun datang ke pengadilan dan tampil sebagai tertuduh. Melihat kedatangan sang khalifah, Zaid segera menyambutnya dan menunjukkan hormatnya kepadanya.

Menerima perlakuan demikian, sang khalifah pun berkata, “Zaid, ini adalah ketidakadilanmu yang pertama.”

BACA JUGA: Saat Zaid bin Tsabit Mendapat Tugas dari Abu Bakar

Selepas berkata demikian. Umar bin Khattab kemudian duduk di samping Ubay bin Ka’ab. Dalam sengketa itu, Ubay tidak memiliki bukti dan Umar menyangkal tuduhan yang ditujukan kepada dirinya. Menurut kebiasaan, si penuduh menghendaki agar si tertuduh mengangkat sumpah. Mengingat kedudukan si tertuduh sebagai Amirul Mukminin, Zaid meminta Ubay untuk meninggalkan haknya atas pengangkatan sumpah terhadap sang khalifah. Menerima perlakuan yang berat sebelah itu dan menguntungkan dirinya, Umar pun merasa jengkel.

Lalu, dia berucap kepada Zaid, “Zaid! Jika ‘Umar dan orang lain mana pun tidak kau perlakukan sama. engkau tidak pantas menjabat sebagai hakim!” []

Sumber: Pesan Indah dari Makkah dan Madinah/ Penulis: Ahmad Rofi Usmani/ Penerbit: Mizan/ Februari, 2008

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More