Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Yusuf, Puncak Ihsan dan Muraqabah

0

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ ۖ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ ۚ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ ۚ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Qs. Yusuf: 24)

Ibnul Qayyim menulis, “Allah SWT telah menyebut ke’iffahan agung dari seorang Yusuf. Faktor yang ada padanya untuk melakukan perbuatan nista itu tidak pernah ada pada selain dia. Ketika itu, dia adalah seorang pemuda, sedangkan seorang pemuda adalah kendaraan syahwat. Dia masih lajang dan tidak punya tempat untuk melampiaskannya.

Dia adalah seorang asing yang jauh dari keluarga dan negerinya. Seseorang yang tinggal bersama keluarga dan dekat dengan sahabat-sahabatnya akan merasa malu untuk melakukannya, sebab harga dirinya akan jatuh karena perbuatannya. Jika dia tinggal di negeri asing, faktor ini pun hilang.

Kemudian waktu itu Yusuf diperlakukan sebagai seorang budak, dan budak tidaklah sebebas orang yang merdeka. Sementara wanita yang mengajaknya berbuat nista adalah seorang wanita yang berkedudukan dan cantik. Wanita itu terus menggodanya, keadaan yang membuat seorang lelaki lepas beban. Apalagi untuk kasus Yusuf, mestinya ada rasa takut jika dia tidak memenuhi ajakan wanita yang menjadi istri tuannya itu. Hal itu masih ditambah rayuan demi rayuan dari pihak wanita sehingga jika ada dugaan bahwa wanita itu sekadar mengujinya dan ingin tahu ke’iffahannya, dugaan itu akan sirna. Juga, kejadian itu berlangsung di rumah si wanita dan di dalam wilayah kekuasaannya, dia tahu betul kapan perbuatan nista itu mungkin dilakukan tanpa sepengetahuan orang.

Terakhir, wanita itu mengunci pintu-pintu rumahnya untuk mencegah masuknya seseorang dengan tiba-tiba. Meskipun demikian, Yusuf berbuat `iffah karena Allan dan tidak menuruti keinginannya. Yusuf mendahulukan hak Allah dan hak tuannya di atas semuanya.

Jika yang diuji dengan keadaan ini bukan Yusuf, entah apa yang akan terjadi. Jika ada yang mengatakan, bukankah disebutkan bahwa Yusuf telah juga berhasrat?

Ada dua jawaban untuk orang yang mengatakan demikian. Pertama, sesungguhnya Yusuf sama sekali tidak berhasrat. Makna ayat itu adalah andaikata Yusuf tidak melihat tanda dari Rabbnya, niscaya dia berhasrat. Ini menurut sebagian ulama.

Kedua, dan ini yang benar menurut saya, yang dimaksud dengan hasrat di ayat itu adalah bersitan hasrat. Yusuf meninggalkannya karena Allah sehingga Allah membalasnya. Berbeda dengan hasrat si wanita. Hasratnya adalah hasrat yang diupayakannya berbagai cara untuk memenuhinya. Namun, dia tidak berhasil memenuhinya. Jadi, hasratnya tidak sama dengan hasrat Yusuf. []

Sumber: Manajemen Akhlak Salaf Membentuk Akhlak Seroang Muslim Dalam Hal Amanah, Tawadhu, dan Malu/Penulis: Abu ‘Amar Mahmud Al-mishry/Penerbit: pustaka Arafah 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline