Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Wanita Pembawa Mazadah

0

“Maukah engkau mengantar kami menuju sumber air?” Wanita itu tak bermaksud buruk. Sungguh, ia pun ingin menunjukkan di mana tempat ia mendapatkan air kepada dua laki-laki yang bertanya padanya. Namun ia memiliki tanggung jawab lain yang tak kalah penting.

“Maaf, wahai Tuan. Bukan maksudku tak mau mengantarmu menuju sumber air. Tapi aku telah berjanji pada kaumku untuk membawa air ini pada mereka,” katanya kepada Ali bin Abi Thalib.

Hari itu, Ali dan seorang sahabat mendapat tugas dari Rasulullah untuk mencari air. Di tengah jalan, mereka bertemu dengan wanita penunggang unta yang membawa dua mazadah (tempat air) berisi air.

“Maukah engkau bertemu sebentar dengan pemimpin kami?” tanya Ali.

“Siapakah pemimpin yang kau maksudkan?” tanya si wanita.

“Beliau adalah Rasulullah, Muhammad al-Musthafa.”

“Apakah ia adalah pembawa agama baru itu?” tanya si wanita kembali.

“Ya, benar,” jawab Ali.

Wanita itu menurut. Ali dan seorang sahabat satunya mengantarkan wanita itu kepada Rasulullah dan menceritakan keadaan nya.

“Ambillah bejana-bejana air kita dan isilah dengan air dan mazadah ini dan minumlah kalian semua dari mazadah yang satunya,” sabda Rasulullah.

Para sahabat segera mengisi bejana-bejana mereka hingga penuh. Mereka pun minum hingga rasa dahaga hilang. Binatang-binatang pun tak lupa mereka beri minum. Rasulullah pun memerintahkan untuk mengisi wadah khusus untuk digunakan para sahabat yang sedang junub.

Masya Allah….

Wanita pembawa air itu terbengong-bengong melihat mukjizat di hadapannya. Air dalam mazadah miliknya yang tak seberapa, seolah tak bisa habis meski telah dituangkan ke dalam wadah-wadah dan diminum semua anggota rombongan. Rasulullah lantas mengembalikan mazadah wanita itu ke punggung untanya. Bukannya berkurang, air di dalamnya malah bertambah penuh.

“Berikanlah makanan kepada wanita ini sebagai rasa terima kasih kita kepadanya,” perintah Rasulullah.

Para sahabat segera mengumpulkan makanan berupa roti, tamar, dan tepung. Mereka meletakkannya di depan si wanita yang telah berada di atas untanya kembali.

“Lihatlah, air dalam mazadahmu sama sekali tak berkurang. Sesungguhnya Allah yang memberi kami minum,” sabda Rasulullah sebelum wanita itu melanjutkan perjalanannya.

Suatu ketika, kaum Muslimin melakukan serangan kepada kaum kafir, kampung si wanita pembawa mazadah luput dari serangan, sedang kampung-kampung di sekitarnya dihancurkan. Maka wanita itu pun berkata pada kaumnya,

“Aku yakin, kaum Muslimin sengaja tak menyerang kita. Masuk Islamlah kalian seperti aku telah memeluk Islam!”

Akhirnya, penduduk kampung itu bersama-sama memeluk Islam. []

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline