Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Walau Matahari di Tangan Kanan dan Rembulan di Tangan Kiri Muhammad

0 24

Mereka telah sepakat untuk melenyapkan nyawa orang yang katanya mengaku utusan Allah terakhir dan membawa kepercayaan baru di Jazirah, Muhammad saw.

BACA JUGA: Pidato Pertama dalam Islam

Tapi, sebelum mengambil langkah lebih jauh, mereka menemui pelindung Utusan terakhir itu, Abu Thalib.

Kepada Abu Thalib mereka katakan, “Keponakan Anda telah mencaci-maki sesembahan dan agama kami;
menyebut kami orang-orang jahil. Dia juga bilang bila nenek moyang kami adalah orang-orang sesat. Sekarang hukum dia atau biar kami yang melakukan. Kami tidak bisa bersabar lagi menghadapinya.”

Abu Thalib menyadari situasi gawat tengah dihadapinya. la memanggil Muhammad dan menceritakan
semua yang dikatakan oleh para pembesar Quraisy itu.

la berkata, “Jagalah dirimu dan diriku dan jangan membebaniku dengan sesuatu yang melebihi kemampuanku.”

Dengan tenang dan teguh hati, Muhamammad saw. menjawab, “Walaupun mereka meletakkan matahari di
tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku berpaling dari risalah yang aku bawa, aku tidak akan berhenti sampai Allah mengantarkan aku pada kejayaan Islam atau aku binasa karenanya.”

BACA JUGA: Islamnya Dhimad, Penyiar Islam yang Tangguh

Tersentuh oleh nada tinggi dari jawaban keponakan tersayangnya, Abu Thalib menjawab, “Lakukan apa yang ingin kamu lakukan! Demi Tuhan Pemelihara Ka’bah, aku tidak akan menyerahkanmu pada mereka.” []

Sumber: The Prophet and Islam / Karya A. Hakim Khan

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline