Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Wahai Ayah, Mari Kita Melaksanakan Qiyamul Lail!

0 40

Syekh Ibnu Zhafar al-Makki mengatakan, “Saya dengar bahwa Abu Yazid Thaifur bin Isa al-Busthami ketika menghafal ayat berikut, “Wahai orang yang berselimut (Muhammad)! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil.” (QS. Al-Muzzammil: 1-2)

Dia berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku! Siapakah orang yang dimaksud Allah dalam ayat ini?’

Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Yang dimaksud ialah Nabi Muhammad.’

Dia bertanya lagi, ‘Wahai Ayahku! Mengapa engkau tidak melakukan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah?’

Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Sesungguhnya qiyamul lail terkhusus bagi Nabi dan diwajibkan baginya tidak bagi umatnya.’ Lalu dia tidak berkomentar.

“Ketika dia telah menghafal ayat berikut, ‘Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu.’ (QS. Al-Muzzammil: 20)

Lalu dia bertanya, ‘Wahai Ayah! Saya mendengar bahwa segolongan orang melakukan qiyamul lain, siapakah golongan ini?’

Ayahnya menjawab, ‘Wahai anakku! Mereka adalah para sahabat.’

Related Posts

Ini yang Disampaikan Umar untuk Umat Muslim

Dia bertanya lagi, ‘Wahai ayahku! Apa sisi baiknya meninggalkan sesuatu yang dikerjakan oleh Nabi dan para sahabatnya?’

Ayahnya menjawab, ‘Kamu benar anakku.’ Maka, setelah itu ayahnya melakukan qiyamul lail dan melakukan shalat.

Pada suatu malam Abu Yazid bangun, ternyata ayahnya sedang melaksanakan shalat, lalu dia berkata, ‘Wahai ayahku! Ajarilah aku bagaimana cara bersuci dan shalat bersamamu?’

Lantas ayahnya berkata, ‘Wahai anakku! Tidurlah, karena kamu masih kecil.’

Dia berkata, ‘Wahai Ayahku! Pada hari manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya, saya akan berkata kepada Rabbku, ‘Sungguh, saya telah bertanya kepada ayahku tentang bagaimana cara bersuci dan shalat, tetapi ayah menolak menjelaskannya. Dia justru berkata, ‘Tidurlah! Kamu masih kecil’ Apakah ayah senang jika saya berkata demikian?’

Ayahnya menjawab, ‘Tidak. Wahai anakku! Demi Allah, saya tidak suka demikian.’ Lalu ayahnya mengajarinya sehingga dia melakukan shalat bersama ayahnya.’” []

Sumber: Hiburan Orang-orang Shalih, 101 Kisah Segar, Nyata dan Penuh Hikmah/ Penulis: Muhammad Amin al-Jundi/ Penerbit: Pustaka Arafah

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline