Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal

Shalih bin Ahmad, putra Ahmad bin Hanbal menceritakan bahwa ayahnya mulai sakit-sakitan sejak awal RabiulAwal 241 Hijriah (855 M). Pada Rabu, 2 Rabiul Awal tahun itu, suhu tubuh Ahmad bin Hanbal begitu panas. Napasnya tersengal-sengal. Sekujur tubuhnya terlihat tampak lemah.

BACA JUGA: Seorang Pemuda yang Wafat di Pangkuan Rasulullah

Pagi itu, pendiri Mazhab Hanbali ini meminta air rebusan kacang. Lalu, Ahmad bin Hanbal minta dipanggilkan ahli warisnya termasuk yang masih kanak-kanak. Lima puluh hari menjelang wafatnya, Ahmad bin Hanbal masih dianugerahi seorang putra yang dia beri nama Sa’id.

Selain Sa’id, dia pun memiliki seorang putra yang baru bisa berjalan, kala sakitnya sudah mulai parah. Dalam kondisi sakit, Ahmad bin Hanbal memeluk dan mencium mereka.

Lalu berkata, “Apa yang bisa aku lakukan untuk anakku yang kecil dalam usia tua seperti ini?”

Shalih bin Ahmad menjawab, “Anak keturunan setelahmu akan berdoa untukmu.”

Ahmad bin Hanbal pun tersenyum, lalu berujar, “Jika demikian halnya, aku hanya mampu berkata, `Alhamdulillah.”

BACA JUGA: Siapa yang Membantu Dakwah Rasulullah Setelah Khadijah Wafat?

Beberapa hari setelah itu, sakaratul maut pun menghampiri sang Imam. Dia memberi isyarat kepada para ahli warisnya untuk mewudhukan dan membersihkan sela-sela jemari beliau. Tak lama seusai sempurna diwudhukan, Imam Mazhab Hanbali ini pun segera menjumpai-Nya. Kabar duka pun segera tersebar ke seantero negeri. []

Sumber: Wafat Saat Shalat /Karya: Mahmud bin Abul Malik Al-Zugbi/Penerbit: PT Mizan Publika/2014

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More