Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Upaya Hajjaj Menjatuhkan Umar bin Abdul Aziz

0

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah dalam Islam yang terkenal dengan ketegasannya. Bahkan, Umar sebelum menjabat sebagai seorang khalifah beliau senantiasa mengkritik kebijakan penguasa yang mmenyalahi syariat Islam pada masa itu, salah satunya adalah Hajjaj yang pernah dikritik oleh Umar. Dalam hal tersebut menyebabkan Hajjaj menyimpan dendam kepada Umar bin Abdul Aziz.

Hajjaj menyimpan dendam kepada Umar bin Abdul Aziz yang mengusulkan kepada al-Walid agar para gubernur tidak membunuh siapa pun kecuali ada bukti kuat. Hajjaj berencana menjatuhkan kredibilitas Umar.

Suatu hari, Hajjaj mengirim orang untuk mendatangi dan membawa seorang Arab Badui Haruri (dari kaum Khawarij) yang kasar dari kabilah Bakr ibn Wa’il. Hajjaj berkata, “Apa pendapatmu tentang Mu’awiyah?”

BACA JUGA: Kehidupan Umar bin Abdul Aziz Setelah Menjadi Khalifah

Orang Arab Badui itu mencela Mu’awiyah. “Apa pendapatmu tentang Yazid?” tanya Hajjaj lagi.

Orang Arab Badui itu mencela Yazid. Hajjaj juga bertanya lagi tentang Abdul Malik kepadanya, dan dia mengatakan ucapan-ucapan zalim tentang Abdul Malik.

Lalu, Hajjaj bertanya untuk kali terakhir, “Apa pendapatmu tentang al-Walid?”

Dia menjawab, “Dia orang yang paling zalim saat mengangkatmu sebagai pejabat, padahal dia tahu sikapmu dan kezalimanmu.”

Hajjaj terdiam. Dia mendapat ide dengan adanya orang Arab Badui ini. Hajjaj kemudian mengirim orang ini bersama sebuah surat yang isinya sebagai berikut:

“Aku lebih tahu dengan agamaku dan lebih memperhatikan serta menjaga tugas yang engkau bebankan kepadaku. Aku tidak akan menjatuhkan hukuman mati kepada orang yang tidak pantas menerimanya. Aku mengirimkan salah seorang yang memang pantas untuk dijatuhi hukuman mati, tetapi itu terserah kepada engkau.”

Ketika Haruri itu dihadapkan kepada al-Walid, di dekat al-Walid ada para tokoh Syam dan Umar. Al-Walid berkata kepada orang itu, “Apa pendapatmu tentang aku?”

Dia menjawab, “Orang zalim.”

“Apa pendapatmu tentang Abdul Malik?”

BACA JUGA: Umar bin Khattab: Pejabat yang Jujur dan Amanah

“Orang yang sewenang-wenang.”

“Apa pendapatmu tentang Mu’awiyah?”

“Orang zalirn.”

Ketika itu juga, al-Walid berkata kepada Ibnu Rayyan, sang algojo, “Pancung lehernya!”

Ibnu Rayyan pun melaksanakan perintah itu. Lalu, al-Walid masuk ke rumahnya dan orang-orang pun bubar. Namun, tak lama kemudian, dia berkata kepada pelayannya, “Panggil Umar untuk menemuiku.”

Umar pun menghadap al-Walid. “Hai Abu Hafsh, apa pendapatmu tentang ini? Apakah kami benar atau salah?” tanya al-Walid.

“Engkau tidak benar jika membunuhnya. Ada hukuman yang lebih baik dan lebih benar. Engkau dapat memenjarakannya sampai dia bertobat kepada Allah atau dia menemui ajalnya,” saran Umar.

Al-Walid berkata, “Dia telah mencelaku dan mencela Abdul Malik, sedangkan dia seorang Haruri. Apakah kamu menganggapnya boleh melakukan itu?”

BACA JUGA: Saat Umar bin Abdul Aziz Bermimpi Bertemu dengan Rasulullah

Umar menjawab, “Tentu saja aku tidak membolehkannya. Seandainya engkau memenjarakannya, itu memang sepantasnya atau engkau bisa memaafkannya.”

Mendengar penjelasan Umar, kontan al-Walid berdiri dan pergi dengan wajah merah karena marah. Saat itu juga Ibnu Rayyan berkata kepada Umar, “Semoga Allah mengampunimu, hai Abu Hafsh. Kamu telah membuat Amirul Mukminin marah hingga aku mengira dia akan memerintahkanku untuk memancung lehermu.” Hajjaj berhasil memengaruhi al-Walid.

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline