Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Untuk Apa Aku Harus Memperhatikannya?

0

Umar bin Abdul Azis adalah khalifah yang sangat terkenal setelah Khulafaur Rasyidin. Isterinya pernah berkata, “Mungkin orang lain sangat mengutamakan wudhu dan shalat, tetapi aku belum pernah melihat orang yang begitu takut kepada Allah Swt. melebihi suamiku. Setelah shalat Isya, dia duduk di atas sajadahnya dan berdoa dengan mengangkat tangannya, kemudian menangis di hadapan Allah hingga tertidur.

Kemudian jika dia terbangun, ia kembali mengerjakan shalat dan menangis. Sejak menjadi khalifah, beliau memang tidak pernah tidur bersama isterinya, padahal isterinya adalah putri raja Abdul Malik. Sebagai mas kawin, ayahnya telah memberikan perhiasan dan permata yang sangat banyak kepadanya, termasuk sebutir intan yang indah.

Khalifah Umar berkata kepada isterinya, “Lebih baik engkau berikan semua perhiasan itu kepadaku, aku akan menyimpannya di Baitul Mal. Jika tidak, lebih baik kita bercerai, karena aku tidak suka hidup dengan kemewahan.”

Spontan isterinya menjawab, “Aku rela menyerahkan semua perhiasan itu, namun aku tidak sanggup berpisah denganmu.”

Lalu Umar menyerahkan semua perhiasan itu ke Baitul Mal. Setelah Umar wafat, kursi kekhalifahan diduduki iparnya, yaitu Yazid bin Abdul Malik.

Yazid berkata kepada saudarinya (isteri Umar), “Jika engkau mau, aku akan mengembalikan semua perhiasanmu dari Baitul Mal.”

Saudarinya, isteri Umar menjawab, “Bagaimana mungkin aku mencintai sesuatu yang dibenci oleh suamiku ketika dia masih hidup.”

Diceritakan, sebelum Umar meninggal ia menanyakan soal penyakitnya kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Salah seorang ada yang berkata, “Bebebrapa orang menduga, ini adalah guna-guna.”

“Tidak, ini bukan guna-guna,” Umar membantah. Kemudian dia memanggil pembantunya dan bertanya, “Mengapa engkau meracuniku?”

Pembantunya menjawab, “Aku disuap dengan 100 dinar dan dijanjikan kebebasan.”

Setelah mendengar penjelasannya, Umar meminta uang 100 dinar itu dari pembantu itu, kemudian menyerahkannya ke Baitul Mal. Lalu Umar berkata,

“Pergilah kamu ke tempat yang jauh dari sini, sehingga tidak ada orang yang melihatmu lagi.”

Menjelang wafatnya, Maslamah mengunjunginya dan berkata, “Engkau telah memperlakukan anak-anakmu dengan perlakuan Yang tidak pernah dilakukan orang lain. Ketiga belas anakmu itu tidak ditinggali warisan sedikit pun.”

Ia bangun dari tempat tidurnya lalu berkata, “Aku telah menjelaskan hal itu kepadamu.” Lanjutnya lagi, “Aku tidak menghalangi mereka untuk mendapatkan haknya, tetapi aku tidak mau memberikan hak orang lain kepada mereka. Jika mereka anak-anak yang shaleh, niscaya Allah akan melindunginya. Sebaliknya, jika mereka gemar berbuat dosa, untuk apa aku harus memperhatikannya.” []

Sumber: Shalat Bersama Rasulullah / Penulis: Maulana Muhammad Zakariya al Kandahlawi / Penerbit: PT Wacana Gelora Cipta,2013

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More