Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Unta yang Kepanasan

0

Hari itu sangat panas. Orang-orang yang tinggal di kota Madinah berusaha mencari tempat untuk berteduh. Ada banyak taman indah di kota, pohon yang rindang tempat orang-orang duduk dan mencari keteduhan. Mereka berbicara. Mereka menyesap minuman yang menyegarkan sembari bercerita dan tertawa.

Nabi sedang berjalan di salah satu taman. Dia suka berjalan di bawah pepohonan di tempat itu karena hijau dan sejuk. Nabi mempunyai kebiasaan berpikir pelan saat dia berjalan. Dia tersenyum pada orang-orang yang dia kenal saat dia berjalan.

Saat itulah, Nabi mendengar suara yang aneh. Kedengarannya seperti tangisan atau lolongan. Saat Nabi mendekati tangisan dan lolongan itu, Nabi bisa melihatnya ternyata bukan orang yang sedih sama sekali. Itu adalah unta yang sedang bersedih.

Nabi merasa sangat kasihan pada unta tersebut. Sang unta diikat pada sebuah pos, di bawah sinar matahari. Ia terlihat kepanasan dan kehausan. Bahkan air mata mengalir di pipi unta itu dan membasahi bulunya. Sepertinya tidak ada yang memperhatikan lolongan unta itu.
Nabi membelai unta, sehingga binatang itu lebih tenang. Setelah beberapa saat, lolongan sang unta berubah menjadi dengus yang menyiratkan kesukaan. Air mata berhenti mengalir di pipi unta itu.

Nabi kemudian berjalan di sepanjang jalur sekitar itu dan menyeru, “Siapa pemilik unta ini?”

Sebuah suara berkata, “Saya tahu,” dan seorang pria melangkah keluar dari bawah naungan pohon terbesar di kebun itu.

Nabi melihat pria itu. Dia tidak kepanasan. Dia tidak kehausan pula. Dia tidak memikirkan untanya. Nabi berbicara pelan soal unta lelaki itu.

Kepala pemilik unta terkulai. Ia terhenyak, dan menyadari apa yang telah dilakukannya. Nabi mengingatkannya bahwa unta itu adalah salah satu ciptaan Allah. Hewan itu bekerja keras untuk pria itu, membawa beban berat dan melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh. Nabi mengingatkan pria itu bahwa dia harus merawat sang unta dengan baik dengan susah payah.

Pemilik unta itu merasa sangat tidak enak. Dia sudah merasa sejuk, nyaman sementara untanya kepanasan dan kehausan. Perilakunya bahkan membuat Nabi tidak senang. Dia sangat malu. Sejak hari itu dia merawat binatangnya dengan hati-hati, dan selalu memastikan untanya sudah cukup makan dan minum. Unta itu tidak pernah terdengar menangis lagi. []

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline