Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Unta Liar sebagai Pertanda Atas Permintaannya

0

Sa’ad bin Abi Waqqash termasuk seorang kesatria berkuda Arab dan Muslimin yang paling berani. la mempunyai dua macam senjata yang amat ampuh panahnya dan do’anya. Jika ia memanah musuh dalam peperangan, pastilah akan mengenai sasarannya, dan jika ia menyampaikan suatu permohonan kepada Allah pastilah dikabulkan-Nya!

Menurut Sa’ad sendiri dan juga para sahabatnya, hal itu adalah disebabkan do’a Rasulullah juga pribadinya. Pada suatu hari ketika Rasulullah menyaksikan dari Sa’ad sesuatu yang menyenangkan dan berkenan di hati beliau, diajukannyalah do’a yang maqbul,

“Ya Allah, tepatkanlah bidikan panahnya dan kabulkanlah do’anya!”

Demikianlah ia terkenal di kalangan saudara-saudara dan teman-temannya bahwa dosanya tak ubah bagai pedang yang tajam. Hal ini juga disadari sepenuhnya oleh Sa’ad sendiri, hingga ia tak hendak berdosa bagi kerugian seseorang, kecuali dengan menyerahkan urusannya kepada Allah Ta’ala.

Sebagai contoh ialah peristiwa yang diriwayatkan oleh Amir bin Sa’ad, “Sa’ad mendengar seorang laki-laki memaki Ali, Thalhah dan Zubair. Ketika dilarangnya, orang itu tak hendak menurut, maka katanya: Walau begitu saya do’akan kamu kepada Allah.”

“Rupanya kamu hendak menakut-nakuti aku, seolah-olah kamu seorang Nabi,” Ujar laki-laki itu

Maka Sa’ad pun pergi wudlu dan shalat dua rakaat. Lalu diangkatlah kedua tangannya, katanya, “Ya Allah, kiranya menurut ilmu-Mu laki-laki ini telah memaki segolongan orang yang telah beroleh kebaikan dari-Mu, dan tindakan mereka itu mengundang amarah murka-Mu, maka mohon dijadikan hal itu sebagai pertanda dan suatu pelajaran!”

Tidak lama kemudian, tiba-tiba dari salah satu pekarangan rumah, muncul seekor unta liar dan tanpa dapat dibendung masuk ke dalam lingkungan orang banyak seolah-olah ada yang dicarinya. Lalu diterjangnya laki-laki tadi dan dibawanya ke bawah kakinya, serta beberapa lama menjadi bulan-bulanan injakan dan sepakannya hingga akhirnya tewas menemui ajalnya.

Kejadian ini mengungkapkan kebeningan jiwa, kebenaran iman dan keikhlasannya yang mendalam. Begitu pula Sa’ad, jiwanya adalah jiwa merdeka, keyakinannya keras membaja serta keikhlasannya dalam dan tidak bernoda. Dan untuk menopang ketaqwaannya ia selalu memakan yang halal, dan menolak dengan keras setiap dirham yang mengandung syubhat. []

Sumber: Yang Merangkak Ke Surga, Sirah 60 Sahabat Rasulullah Saw/ Penulis: Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit: Shahih, 2016

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline