Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Umar bin Abdul Aziz Khawatir jika Dirinya Diangkat Menjadi Khalifah

0

Suatu hari, Sulaiman yang sedang sakit menanyakan Umar bin Abdul Aziz. Umar kemudian menemuinya. Sulaiman berkata, “Wahai Umar, tidak ada hal yang sangat mengkhawatirkanku kecuali kekhawatiranku kepadamu.”

BACA JUGA: Iri Hati Menghapiri Hisyam, Tatkala Salim bin Abdullah Wafat

Sejak saat itu, Umar merasa gundah. Ia khawatir Sulaiman telah menetapkannya sebagai khalifah sepeninggalnya. Ia pun bergegas menemui penasihat khalifah seraya berkata, “Aku bermimpi Amirul Mukminin meninggal dunia dan aku tidak mengira ia akan melakukan pengangkatan. Aku mohon padamu, jika dia mengingatku akan sesuatu, engkau harus mengalihkan perhatiannya. Dan jika ticiak mengingatku, engkau jangan berusaha membuatnya ingat.”

Umar menarik napas panjang, lalu melanjutkan kata-katanya, “Hai Abul Miqdam, Sulaiman memiliki hubungan keluarga dan kasih sayang denganku. Ia juga sangat baik kepadaku. Aku khawatir dia telah menyerahkan kepemimpinan kepadaku. Oleh karena itu, aku minta kepadamu beri tahu aku jika memang benar dia telah menyerahkan kepemimpinan kepadaku sehingga aku dapat memintanya untuk membatalkan keputusan itu sebelum tiba waktu saat aku tidak bisa lagi memintanya untuk membatalkan.”

Penasihat yang bernama Raja bin Haiwah itu menjawab tegas, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan memberi tahu.”

Umar pun pergi dengan perasaan marah. Tak lama kemudian, Hisyam ibn Abdul Malik datang menemui sang penasihat.

Dia berkata, “Hai Raja, aku memiliki hubungan kekeluargaan dan kasih sayang denganmu sejak lama dan aku sangat berterima kasih. Oleh karena itu, beri tahu aku apakah kekhalifahan diserahkan kepadaku? Jika ya, aku memang pantas untuk itu. Jika tidak, aku akan bicara. Beri tahu aku. Aku tidak akan membocorkan ini.”

Raja berkata, “Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberitahukan apa pun yang disampaikan Khalifah kepadaku.”

BACA JUGA: Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjadi Khalifah

Akhirnya, Hisyam pergi sambil memukulkan satu tangannya ke tangannya yang lain tanda kesal sembari berkata, “Kepada siapa kekhalifahan diserahkan jika tidak kepadaku? Apakah akan diserahkan kepada selain anak-anak Abdul Malik? Demi Allah, akulah anak Abdul Malik sebenarnya.” []

Sumber: The Great of Two Umars/Karya: Fuad Abdurrahman/Penerbit: Zaman/2013

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More