Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Umair bin Sa’id, Pejabat yang Disenangi Umar bin Khattab

0

Khalifah Umar bin Khattab melantik Umair bin Sa’id sebagai Gubernur Hims. Setelah ia tinggal di sana selama setahun, ia tidak pernah mengirimkan pajaknya dan tidak ada kabar berita darinya. Kemudian, Umar berkata kepada sekretarisnya, “Tulislah surat untuk Umair! Aku takut ia mengkhianati kita.”

Pada suatu hari, Umar melihat seorang lelaki yang kusut dan dekil, diliputi kelelahan perjalanan, hampir saja kedua kakinya tidak kuat menginjak tanah saking banyaknya rintangan dan beban yang ia hadapi, serta kerasnya usaha yang dilakukannya. Di pundak kanannya, ia memanggul karung dan mangkuk besar, sedang di pundak kirinya ia membawa kendi kecil berisi air. Ia berjalan si atas tongkatnya, kondisinya sungguh tidak bisa ditahan hati nurani yang lemah lembut.

Umair mendekati majelis Umar dengan tertatih-tatih. “Assalamu’alaikum, Amirul Mukminin.”

Umar menjawab salamnya dan bertanya mengenai keadaannya. Sungguh, ia merasa iba melihat keadaan Umair yang dipenuhi penderitaan dan keletihan “Bagaimana keadaanmu, hai Umair?”

“Seperti yang engkau lihat. Bukankah engkau lihat aku berbadan sehat, suci darahnya, aku memiliki dunia yang aku bawa ujungnya.”

“Apa yang engkau bawa?” tanya Umar.

“Aku membawa kantong tempat perbekalanku, mangkuk tempat makananku, kendi tempat air wudhu dan minumanku, serta sebuah tongkat tempat aku bersandar atau untuk mengusir musuh yang datang. Demi Allah, tidak ada dunia ini kecuali beban saja.”

“Apakah engkau datang dengan berjalan kaki?”

Related Posts

Jarak antara Umair bin Hamam dengan Surga

“Ya”

“Apakah tidak ada seorang pun yang menghadiahkan tunggangan kepadamu?”

“Mereka tidak memberikannya dan akupun tidak mau memintanya.”

“Apa yang kamu kerjakan dengan perjanjian yang telah kita sepakati?”

“Aku datang ke sebuah negeri yang engkau perintahkan, kemudian aku mengumpulkan orang-orang saleh, lalu aku memimpin mereka mengumpulkan pajak mereka. Saat pajak terkumpul, aku pun membagikan di tempat-tempat yang seharusnya. Jika ada sesuatu yang tersisa setelah itu, niscaya aku kirimkan kepadamu.”

“Jadi, engkau tidak membawa apa pun?”

“Tidak.”

Lalu, Umar berkata kepada sekretarisnya dengan kegembiraan yang luar biasa, “Perbaharuilah perjanjian kita dengan Umair!” Akan tetapi, Umair menolaknya, “Hari-hari itu telah berlalu, aku tidak akan bekerja untukmu atau orang-orang setelah engkau.” []

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline