Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Ubay bin Ka’ab, Nama dan Turunannya di Tingkat Tertinggi

0 40

Pada suatu hari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada salah seorang sahabatnya, “Hai Abu Munzir, Ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?”

Sahabat itu menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.”

Nabi SAW mengulangi pertanyaan­nya, “Abu Munzir, ayat manakah dari Kitabullah yang teragung?”

Ia menjawab, “Allah tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Maha Hidup lagi Maha Pengatur.” (QS. Al-Baqarah: 255).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun menepuk dadanya, dan dengan rasa bangga yang tecermin di wajahnya, beliau bersabda, “Hai Abu Munzir, selamat bagimu atas ilmu yang kau capai.”

Abu Munzir yang mendapat ucapan selamat dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia atas ilmu dan pengertian yang dikaruniakan Allah kepadanya itu, tiada lain adalah Ubay bin Ka’ab, seorang sahabat yang mulia.

Ia adalah seorang warga Anshar dari suku Khazraj, dan ikut mengambil bagian dalam Baiat Aqabah, Perang Badar dan peperangan-peperangan penting lainnya. Ia mencapai kedudukan tinggi dan derajat mulia di kalangan Muslimin angkatan pertama, hingga Amirul Mukminin Umar RA sendiri pernah mengatakan tentang dirinya, “Ubay adalah pemimpin Kaum Muslimin.”

Ubai bin Ka’ab RA merupakan salah seorang penulis dari beberapa orang penulis wahyu dan penulis-penulis surat. Begitu pun dalam menghafal Alquranul Karim, membaca dan memahami ayat-ayatnya, ia termasuk golongan terkemuka.

Pada suatu hari, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Hai Ubay bin Ka’ab, aku dititahkan untuk menyampaikan Alquran padamu.”

Ubay maklum bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam hanya menerima perintah-perintah itu dari wahyu.

Dengan harap-harap cemas ia menanyakan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, ”Wahai Rasulullah, ibu-bapakku menjadi tebusan anda! Apakah kepada anda disebut namaku?”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Benar! Namamu dan turunanmu di tingkat tertinggi.”

Seorang Muslim yang mencapai kedudukan seperti ini di hati Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pastilah ia seorang Muslim yang mulia. Selama tahun-tahun persahabatan, yaitu ketika Ubay bin Ka’ab RA selalu berdekatan dengan Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam, tak putus-putusnya ia mereguk dari telaganya yang dalam itu airnya yang manis.

Setelah berpulangnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Ubay bin Ka’ab menepati janjinya dengan tekun dan setia, baik dalam beribadah, dalam keteguhan beragama dan keluhuran budi.

Di samping itu tiada henti-hentinya ia menjadi pengawas bagi kaumnya. Diingatkannya mereka akan masa-masa Rasulullah SAW masih hidup, diperingatkan keteguhan iman mereka, sifat zuhud, perangai dan budi pekerti mereka.

Baca juga: Saat Nabi Adam Meminta Buah dari Surga

Sumber: 101 Sahabat Nabi/Penulis: Hepi Andi Bastoni/Penerbit: Pustaka Al-Kautsar:

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline