Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Turunnya Surah Al-Mudatsir Ayar 11

0

Walid bin Mughirah menyimak Al-Qur’an yang mulia dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari satu kali. Hampir saja dia beriman sekiranya tidak didahului taqdir, kufur dan kesombongan Jahiliyyah.

Diriwayatkan bahwa Al-Walid datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang membacakan Al-Qur’an, seakan-akan dia simpati terhadap Beliau. Lantas berita tersebut sampai kepada keponakan Al-Walid –musuh Allah- Abu Jahal, lalu dia mendatanginya seraya berkata, “Wahai pamanku, sesungguhnya kaummu akan mengumpulkan harta agar diberikan kepadamu.”

Al-Walid merasa heran dan berkata, “Untuk apa wahai anak saudaraku?”

Abu Jahal berkata, “Untuk memberimu, engkau mendatangi Muhammad untuk memaparkan apa yang diperolehnya!”

Al-Walid berkata dengan kesal lagi menyombongkan diri, “Demi Allah, kaum Quraisy mengetahui bahwa akulah orang yang kaya di antara mereka.”

Di sini Abu Jahal berkata dengan logat orang yang membela, “Wahai paman, katakanlah mengenai Al-Qur’an kepada kaummu bahwa ia munkar dan engkau membencinya.”

Al-Walid berkata, “Apa yang akan kukatakan? Demi Allah, tidak ada di antara kalian lelaki yang lebih mengetahui dan lebih luas wawasannya tentang syair daripadaku, dan demi Allah dia tidak mirip dengan syair sama sekali.”

Demi Allah, perkataan yang diucapkannya adalah sesuatu yang manis, dia memiliki keindahan, dan ada buah di atasnya, sementara di bawahnya lebat. Sungguh, ia amat tinggi dan tiada tara, dia pun akan menghancurkan apa yang di bawahnya.

Related Posts

Turunnya Surah al-Hasyr Ayat 9

Maka Abu Jahal berkata dengan logat yang buruk untuk membangkitkan dasar-dasar kekufuran di hati Al-Walid yang paling dalam, “Demi Allah, kaummu tidak rela terhadapmu sehingga engkau mengatakan komentar buruk tentangnya.”

Al-Walid berkata, “Biarkan aku berfikir.” Sesudah berfirkir keras, berperang melawan jiwa, berfikir dengan bantuan gerombolan setan dalam dirinya, dia berkata, “ini adalah sihir yang membekas.”

Kemudian turun ayat, “Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian.”

Hingga firman Allah, “Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al-Muddattsir: 11-25)

Al-Walid Ibnul mughirah mengetahui dengan fithrahnya sebagai orang Arab dan wataknya yang benar, bahwa Al-Qur’an yang mulia tidak mungkin berasal dari manusia. Dia berkata sebatas perkataan yang terlontar sebagai wujud rasa yang mendalam dan sastra bahasanya, tanpa menjadikan suatu beban yang menguasa melainkan fithrah dan perasaannya, tanpa pembicaraan yang bertele-tele dan ungkapan yang berputar-putar, bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam orang paling jauh orang dari perdukunan, syair dan sihir serta bisikannya.

Pada rangkaian perkataannya terdapat kelezatan yang dirasakan oleh para pemimpin sastra dan pemuka yang fasih berbahasa Arab serta khatib yang handal, ia adalah perkataan yang tetap dalam puncak kejelasan, cabangnya bertaburan di langit sastra, tiang-tiangnya menancap di lubuk kejujuran dan petunjuk.

Hanya saja kecongkakan Al-Walid, kelalaian dan kekufurannya juga kekufuran keponakannya Fir’aun umat ini, taklid yang dominan, demikian pula kefanatikan yang terwarisi, menjadikan Al-Walid mengundurkan diri membalikkan kedua kakinya, jiwanya berkecamuk, dia takut akan ungkapan Abu Jahal terhadapnya di depan para pembesar yang buruk dari kalangan Quraisy, dia dikuasai kesesngsaraan hingga menempuh jalan yang menentang. []

Baca juga: Sungguh Tawaran Kalian tersebut Sesuatu yang Murahan!

Sumber: Orang-orang yang Divonis Masuk Neraka/Penerbit: Pustaka Darul Ilmi,2008

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline