Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tuduhan Keji hingga Hukuman Mati

0 19

Hujr Ibn Adi itu adalah seorang sahabat Nabi yang tulus dan jujur serta shaleh dan ia memerankan peranan yang sangat penting dalam meluruskan sikap dan prilaku kaum Muslimin. Selama rezim pemerintahan Mu’awiyah—ketika mengutuk Imam Ali lewat mimbar-mibar mesjid itu sudah diawali dan menjadi kebiasaan—kaum Muslimin hancur hatinya akan tetapi mereka tidak bisa melakukan apapun selain menggigit lidahnya sendiri karena rasa takut.

Sedangkan di Kufah, Hujr Ibn Adi tidak bisa berpangku tangan dan berdiam diri. Ia mulai memuji-muji Imam Ali dan mengutuk Mu’awiyah. Pada saat Mughira menjadi gubernur kota Basrah dan ia memberlakukan kebijakan yang lunak dan tidak menghukum Hujr Ibn Adi hingga kemudian kepemimpinannya digantikan oleh Ziyad. Ketika Ziyad menjadi gubernur kota Basrah dan kekuasaannya diperluas hingga Kufah, maka ia mulailah terjadi keresahan.  Ia mulai mengutuk Imam Ali dalam khutbah-khutbahnya  dan oleh karena itu Hujr Ibn Adi menentangnya.

Pada sebuah kesempatan, Hujr Ibn Adi memperingatkan Ziyad karena Ziyad terlambat untuk menghadiri Shalat Jum’at. Ziyad menjawabnya dengan menyuruh orang-orangnya untuk menangkap Hujr Ibn Adi beserta 12 orang sahabatnya atas tuduhan bahwa Hujr Ibn Adi hendak menggalang sebuah kelompok untuk menggulingkan kekuasaan dan atas tuduhan bahwa Hujr Ibn Adi telah mengutuk khalifah.

Ia juga mengumpulkan orang-orang untuk bersaksi bahwa Hujr Ibn Adi dan para sahabatnya itu telah mengatakan bahwa Khilafah (kekhalifahan) itu adalah milik ekslusif dari Ali Ibn Abi Talib dan kemudian lebih jauh lagi ia menuduh bahwa Hujr bersama para sahabatnya sedang menggalang kekuatan untuk menciptakan kerusuhan kemudian menggulingkan kekuasaan dan mendukung Abu Turab Ali dan melancarkan permusuhan kepada para musuh Imam Ali. Salah seorang dari orang-orang yang dipaksa untuk menjadi saksi ini ialah Qadi Shudri.

Kesaksiannya digunakan oleh Ziyad. Ia lalu menuliskan sebuah surat kepada Mu’awiyah mengatakan bahwa darah dan harta orang-orang yang mengaku bahwa mereka itu mendirikan shalat, membayarkan zakat, dan melaksanakan haji dan umrah, serta berdakwah secara baik dan mengatakan bahwa yang haram itu haram itu apabila ia mau membunuh mereka, maka bunuhlah, dan kalau tidak mau membunuh mereka maka berilah ampunan bagi mereka.

Orang-orang yang tertuduh itu segera dibawa ke hadapan Mu’awiyah dan kemudian Mu’awiyah menghukumi mereka hukuman mati. Sebelum membunuh mereka, Mu’awiyah memberikan mereka sebuah tawaran yaitu bahwa apabila mereka mau mengutuk Imam Ali dan menunjukkan kebenciannya kepada Imam Ali, maka mereka akan diberikan ampunan dan tidak akan dihukum mati. Mereka semua menolak.

Hujr Ibn Adi malah berkata, “Aku takkan pernah mengatakan sesuatu yang membuat Allah membenciku.”

“Akhirnya Hujr Ibn Adi bersama puteranya Humam Ibn Hujr dan 7 orang sahabatnya dibunuh. Abdurrahman Ibn Hassan—salah seorang sahabat Hujr Ibn Adi tidak dibunuh di tempat. Ia dikirimkan kembali dengan sebuah surat perintah bahwa ia harus dibunuh dengan cara yang paling mengerikan. Ziyad kemudian menguburkannya hidup-hidup.” []

Sumber: Caliphs and Kings/ Penulis: Sayyid Abul Ala Maududi

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline