Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tiga Do’a yang Diucapkan Pria Itu Membuatnya Menjadi Kekasih Allah

0

Pada zaman Nabi Musa a.s. terdapat seorang laki-laki yang terkenal kefasikannya. Ketika laki-laki itu meninggal dunia, orang-orang yang ada di sekitarnya tidak sudi untuk memandikan dan menguburkannya. Mayat laki-laki itu diseret dan dibuang ke tempat sampah.

Terkait dengan peristiwa itu, Allah SWT menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s., “Musa, ada seorang yang meninggal di suatu perkampungan yang diperlakukan dengan hina oleh orang-orang di sekitarnya. Mayatnya dibuang ke tempat sampah. Warga kampung itu tidak mau memandikan, mengkafani, dan menguburkannya secara layak. Padahal, dia itu salah seorang kekasih-Ku. Oleh karenanya, pergilah ke tempat itu, mandikanlah dia, kafani, salati, lalu kuburkanlah dengan layak.”

Nabi Musa a.s. segera datang ke tempat tersebut dan bertanya kepada warga mengenai mayat tersebut.

Mereka menjawab, “Memang ada orang yang telah meninggal dunia. Semasa hidupnya dia mempunyai sifat dan perangai yang jelek.”

Nabi Musa a.s. lalu bertanya, “Tunjukkanlah kepadaku, di mana mayatnya berada?”

Akhirnya, mereka pergi bersama Nabi Musa a.s. ke suatu lokasi yang menjadi tempat pembuangan mayat orang dimaksud. Betapa terkejutnya Nabi Musa a.s. menyaksikan mayat laki-laki yang tergeletak di antara onggokan sampah. Terlebih lagi, ketika menyaksikan mayat laki-laki itu, warga kembali menceritakan kejelekan laki-laki itu.

Menyaksikan hal itu, Nabi Musa a.s. bermunajat kepada Allah, “Tuhan, Engkau telah memerintahkan aku untuk memandikan, mengkafani, mensalati, dan menguburkan mayat ini, sedangkan orang-orang di sekitarnya memberikan kesaksian atas kejelekan dan kefasikannya. Ya Allah, Engkaulah Yang Maha Mengetahui perihal kebaikan atau kejelekan orang ini.”

Allah SWT lalu menurunkan wahyu kepada Nabi Musa a.s., “Musa, apa yang mereka ceritakan mengenai keburukan perilaku laki-laki itu memang benar dalam pandangan mereka. Tetapi, mereka tidak mengetahui bahwa laki-laki itu sebenarnya telah meminta pertolongan (syafaat) kepada-Ku menjelang kemati-annya dengan tiga doa. Andaikan seluruh makhluk-Ku yang berbuat dosa memintanya kepada-Ku dengan tiga doa itu, tentu Aku akan memberikannya. Bagaimana Aku tidak akan mengabulkan orang yang meminta kepada-Ku, sedangkan Aku adalah Maha Penyayang di antara para penyayang?”

Related Posts

Doa dari Nabi Nuh Agar Terindar dari Gangguan Ular dan Kalajengking

Nabi Musa a.s. bertanya, “Ya Allah, apakah tiga doa itu?”

Allah SWT menjawab, “Musa, menjelang kematiannya si mayit memohon tiga doa kepada-Ku. Doanya yang pertama, `Tuhanku, Engkau mengetahui keadaan diriku. Aku telah banyak melakukan kemaksiatan, padahal hatiku membenci kemaksiatan. Namun, karena adanya tiga hal sehingga aku melakukan kemalcsiatan, meslcipun hatiku membencinya.

‘Ketiga hal itu adalah hawa nafsu, teman yang buruk, dan iblis yang terlaknat. Tiga hal itulah yang menyeretku sehingga bergelimang dalam dosa dan kemaksiatan. Sungguh Engkau, Ya Tuhanku, lebih mengetahui apa yang aku ucapkan daripada aku sendiri. Oleh karenanya, ampunilah dosa-dosaku.’

‘Doanya yang kedua, `Tuhanku, sungguh Engkau mengetahui bahwa aku banyak melakukan kemaksiatan karena tempat tinggalku bersama dengan orang-orang yang fasik. Akan tetapi, pada dasarnya aku lebih suka bersahabat dengan orang-orang yang saleh. Bertempat tinggal bersama orang-orang yang saleh jauh lebih aku senangi daripada bertempat tinggal bersama dengan orang-orang fasik.’

‘Doanya yang ketiga, `Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa aku lebih menyukai orang-orang yang saleh daripada orang-orang fasik. Sekiranya ada dua orang yang menemuiku yang satu orang saleh dan yang satu orang fasik, maka aku akan mendahulukan kepentingan orang saleh daripada orang fasik.”

Dalam riwayat lainnya, Wahb bin Munabbih menyebutkan bahwa doa laki-laki itu saat menjelang ajalnya adalah sebagai berikut, “Tuhanku, sekiranya Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku, maka kekasih dan nabi-Mu akan bergembira. Dengan begitu, setan yang menjadi musuhku dan musuh-Mu akan bersedih. Namun, sekiranya Engkau menyiksaku lantaran dosa-dosaku, maka setan dan kawan-kawannya akan bergembira. Sementara para kekasih dan nabi-Mu akan bersedih. Padahal, aku mengetahui bahwa kegembiraan kekasih-Mu lebih Engkau sukai daripada kegembiraan para setan dan kawan-kawannya. Oleh sebab itu, ampunilah dosa-dosaku, wahai Allah Yang Maha Pengampun. Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui kesungguhan apa yang aku ucapkan daripada aku sendiri. Berikanlah rahmat kepadaku dan ampunilah dosa-dosaku, wahai Tuhan Yang Maha Pengampun.”

Allah SWT lalu berfirman, “Aku pun memberikan rahmat kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya karena Aku adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, terlebih kepada orang yang mengakui dosa-dosanya di hadapan-Ku. Hamba ini benar-benar bertobat dan mengakui dosa-dosanya. Tak ada alasan Aku tidak mengampuni dan menghapuskan dosa-dosanya. Musa, lakukanlah apa yang Aku perintahkan kepadamu. Dengan sebab kemuliaannya, Aku mengampuni orang-orang yang menyalati dan ikut serta dalam penguburannya.” []

Baca juga: 10 Pesanan Allah kepada Nabi Musa

Sumber: Di Istana Cinta Rasulullah/Penulis:Mokh Syaiful Bkhri /Penerbit:Erlangga

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline