Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Thawus Bin Kaisan: Adakah Kemunafikan Selain Ini?

0 27

Pada suatu hari, kami pergi bersama ayahku (Thawus bin Kaisan) untuk melaksanakan ibadah haji dari Yaman, lalu kami singgah di sebuah kota, di sana ada seorang penguasa yang bernama Ibnu Najih, dia adalah seburuk-buruknya penguasa dan orang yang paling lancang terhadap kebenaran serta paling jauh terjerumus ke dalam kebatilan.

Lalu kami mendatangi masjid di kota itu untuk melaksanakan shalat wajib, sementara itu Ibnu Najih telah mengetahui berita kedatangan ayahku, maka dia pun datang ke masjid dan duduk di hadapannya seraya mengucapkan salam kepadanya.

Namun, ayahku tidak menjawabnya, dia malah membalikkan badan dan membelakanginya. Lalu Ibnu Najih mendatanginya dari sebelah kanan dan mengajaknya berbicara, namun ayahku berpaling darinya. Lalu Ibnu Najih berpindah ke sebelah kiri dan mengajaknya berbicara, namun ayahku berpaling juga darinya.

Ketika aku menyaksikan peristiwa tersebut, maka aku pun berdiri menghampirinya dan mengulurkan tanganku kepadanya seraya mengucapkan salam kepadanya, Ialu aku berkata kepadanya, “Sesungguhnya ayahku tidak mengenalmu.”

Related Posts

Dia menjawab, “Akan tetapi ayahmu mengenalku, dan karena itulah dia melakukan apa yang tadi engkau lihat.”

Kemudian dia berlalu pergi dalam diam dan tidak berkata sedikit pun. Ketika karni telah kembali ke rumah, ayahku melirik kepadaku seraya berkata, “Wahai orang dungu, engkau mencela mereka dengan lisan yang tajam ketika mereka tidak ada. Lalu ketika mereka datang, engkau tunduk kepada mereka dengan menanggapi perkataannya. Adakah kemunafikan selain ini?!”‘

Sumber: Kisah Para Tabiin/Penulis:Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi /Penerbit:Ummul Qura

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline