Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Terbunuhnya Nabi Palsu, Aswad Al-Ansi

0

Al-Aswad al-‘Ansi memproklamirkan diri sebagai nabi di Yaman pada masa-masa akhir kehidupan Nabi Shalallu `Alaihi Wassalam. Ia murtad dari agama Islam dan mengaku meraih nubutinuah (kenabian). Kemurtadannya adalah kemurtadan pertama yang terjadi dalam Islam pada zaman Rasulullah Shalallu `Alaihi Wassalam.

Ia bersama para pengikutnya bergerak cepat dan menguasai hampir seluruh wilayah Yaman hanya dalam waktu tiga atau empat bulan. Nabi Shalallahu `Alaihi Wassalam pun mengirim surat kepada kaum Muslimin Yaman yang berisi anjuran perang melawan al-Aswad al-‘Ansi. Kaum Muslimin Yaman menyambut anjuran beliau.

Di waktu subuh mereka saling memanggil dengan sandi yang sudah sama-sama mereka sepakati, dan mereka berseru secara Islam sambil ramai-ramai mengatakan, “Kami bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah, dan bahwa si Abhalah yaitu nama Aswad al-Ansi pembohong.”

Kepala Aswad yang telah putus  dari lehernya mereka lemparkan keluar. Para penjaga istana hanya terbengong melihat kepala si dukun keji itu. Tak lama kemudian, penduduk di sekitar istana berduyun-duyun menyaksikan kepala Aswad yang telah tergeletak. Sebentar keadaan jadi kacau tapi kemudian tenang kembali setelah Qais, Fairuz dan Dazweh menguasai keadaan. Baik dalam keadaan tenang atau dalam keadaan kacau sebelumnya besar sekali pengaruhnya buat Azad.

Ath-Thabari dan Ibnu al-Atsir menyebutkan bahwa Aswad mati sebelum Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wassalam berpulang ke rahmatullah, dan bahwa pada malam kejadian itu beliau sudah menerima wahyu tatkala berkata, “Al-Ansi (Aswad) terbunuh, dibunuh oleh seorang laki-laki yang mendapat berkah dari keluarga orang-orang yang penuh berkah.”

Ditanya siapa yang membunuh, ia menjawab, “Dibunuh oleh Fairuz.”

Sumber lain menyebutkan bahwa berita kematian Aswad itu sampai ke Madinah setelah Rasulullah Shalallahu `Alaihi Wassalam wafat, dan bahwa itulah berita baik pertama yang sampai kepada Abu Bakar ketika ia di Madinah.

Selanjutnya sumber itu menyebutkan, bahwa Fairuz berkata, “Setelah Aswad kami bunuh keadaan kita kembali seperti semula, di tangan Mu’az bin Jabal, dan dia yang mengimami salat kami. Tinggal harapan bagi kami; orang yang kami benci sudah tak ada, kecuali pasukan berkuda teman-teman Aswad. Kemudian setelah datang berita kematian Nabi, di mana-mana timbul kegelisahan.” []

Sumber: Abu Bakar Ash-Shidiq/ Penulis: Muhammad Husain Haekal/ Penerbit: Litera Antar Nusa

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More