Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Umar Kehilangan Selendangnya

0 2

Suatu hari Khalifah Umar bin Khattab mempunyai urusan negara ke suatu daerah. Lantas ia bergegas ke tempat salah seorang sahabat yang telah bersedia menyewakan unta untuk perjalanan tersebut dan ia mengambil dua unta untuk dipakainya dan satu sahabat Umar yang lain.

Karena udara yang sangat panas tersebut, Umar dan sahabatnya sengaja memilih jalanan setapak yang sekiranya diteduhi oleh pepohonan. Ini agar mereka sedikit merasakan keteduhan dan unta-unta itu tetap dalam kondisi yang segar.

Saking tercurahnya perhatian mereka dalam perjalanan itu, tanpa sadar selendang yang dikenakan oleh Umar di pundaknya tersangkut pada sebuah ranting pohon. Tetapi terus saja mereka melanjutkan perjalanan, karena baik Umar bin Khattab maupun sahabat yang menemaninya tidak menyadari akan hal itu.

Namun setelah melewati beberapa padang dan gurun yang panas, Umar sadar bahwa selendangnya sudah tidak melekat lagi di bahunya. Umar mengernyitkan dahinya berpikir keras, apa gerangan yang menyebabkan tiadanya selendang itu.

“Ada apa gerangan, Amirul Mukminin?” Tanya sahabatnya.

Umar menatap sahabatnya sejenak sebelum menjawab, “Selendangku. Sekarang sudah tidak ada lagi bersamaku.”

“Ya, tetapi akupun sesungguhnya tidak tahu apa yang terjadi.”

“Dugaanku, kemungkinan selendang itu tersangkut di sebuah ranting pohon. Tapi entah di mana.”

Related Posts

Budak di Bumi, Raja di Surga

Umar bin Khattab turun dari pelana untanya. Ia berujar kepada sahabat, “Mohon, tinggal di sini sementara aku akan mencari selendang itu.”

Sebelum sahabat memberikan jawaban, Umar sudah menggegas langkahnya menyusuri jalanan setapak yang tadi telah mereka lalui. Sahabat itu terus menunggu dalam waktu yang sangat lama. Hingga akhirnya Umar datang dan tersenyum kepada sahabatnya.

“Ayo kita lanjutkan perjalanan kita. Maafkan telah membuatmu menunggu dahulu.”

Ketika Umar menolak tali kekang untanya, sahabat berujar. “Maafkan wahai Amirul Mukminin. Tadi kau tentu telah berjalan jauh sekali melihat kondisimu seperti itu dan aku harus menunggumu lama sekali? Kenapa engkau harus bersusah payah menyiksa diri menyusuri jalanan yang panjang dan jauh tadi untuk mengambil selendangmu, padahal engkau bisa menggunakan untamu?”

“Kau tahu, unta-unta ini bukan milik kita.”

“Ya. Tetapi kita sudah menyewanya untuk perjalanan ini.”

“Tapi, kita hanya menyewanya untuk perjalanan yang sudah disepakati bahwa jarak yang ditempuh hanya dari Persia sampai ke tempat tujuan kita. Tidak termasuk untuk kembali dalam mengambil selendangku yang tersangkut kain yang jaraknya cukup jauh barusan.”

“Tetapi pemilik unta ini tidak akan tahu.”

Umar semakin melebarkan senyumnya. “Ia memang mungkin tidak akan pernah tahu. Tetapi aku yakin seyakin-yakinnya, bahwa jika aku bertindak begitu, Allah melihat aku telah mencederai janjiku kepada sahabat kita itu. Allah selalu melihat.” []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline