Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Para Malaikat Meletakkan Sayapnya

0 37

Sufyan bin ‘Uyainah memiliki beberapa kesaksian sebagai seorang yang alim, ahli hadits, dan seorang pendidik yang utama dan cakap. Suatu ketika dia berjalan di jalanan Mekah menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat, tiba-tiba seorang laki-laki menemuinya, lantas Sufyan pun bertanya kepadanya, “Apa keinginanmu?”

Laki-laki itu menjawab, “Mencari hadits.”

Maka Sufyan berkata, “Beritakanlah keluargamu dengan kebangkrutan.”

Kemudian dia terus mengulang-ulang perkataannya, “Barang siapa yang ditambahkan akalnya, dikurangi rezekinya.”

Pada hari yang sama, seusai melaksanakan shalat tiba-tiba beberapa orang berkata kepadanya, “Wahai Sufyan, ceritakanlah (hadits) kepada kami.”

Lalu Sufyan berkata, “Aku tidak melihat kalian sebagai orang yang pantas untuk meriwayatkan hadits, dan aku pun tidak melihat diriku sebagai orang yang pantas diambil haditsnya. Perumpamaanku dengan kalian hanyalah sebagaimana yang dikatakan, `Kejelekan mereka cukup terkenal namun mereka saling berdamai’.”

Lalu orang-orang bertanya kepadanya, “Kepada siapa kami harus bertanya?”

Dia menjawab, “Bertanyalah kepada para ulama dan mintalah kepada Allah agar diberi-Nya taufik.”

Dalam majelis lainnya Sufyan pernah ditanya tentang zuhud, dia pun menjawab, “Zuhud itu terhadap apa yang telah Allah haramkan.”

Kemudian dia menambahkan perkataannya sebagai bantahan terhadap laki-laki itu, “Adapun Isa bin Maryam tidak menginginkan wanita dikarenakan dia tidak diciptakan dari air mani.”

Ketika dia sedang berbicara di majelisnya, dia pun mengatakan kepada orang-orang, “Ashim berkata, dari Zirrin, dia berkata, pernah datang kepada Shafwan bin Assal, lantas dia bertanya: Apa yang mendatangkanmu (kemari)? Apa yang mendatangkanmu (kemari)?”

Related Posts

Aku pun menjawab, “Aku datang mengharapkan ilmu.”

Dia berkata, “Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi pencari ilmu karena ridha terhadap apa yang mereka cari.”

Aku berkata. “Terbesit dalam diriku atau dadaku tentang mengusap dua sarung kaki (khuffain) setelah buang air besar atau air kecil, apakah engkau pernah mendengar suatu hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam?”

Dia pun menjawab, “Ya. dia memerintahkan kami apabila dalam kondisi bepergian atau menjadi musafir agar tidak melepaskan sarung kaki kami selama tiga hari tiga malam kecuall dari junub, akan tetapi dari buang air besar, buang air kecil, dan tidur.”

Aku bertanya, “Apakah engkau pernah mendengarnya menyebutkan tentang cinta.”

Dia menjawab, “Ya. Ketika kami bersama beliau dalam sebuah perjalanan, tiba-tiba seorang Arab baduwi memanggil beliau dengan suara yang sangat keras, dia berkata, ‘Hai Muhammad.’

Beliau pun menjawabnya dengan nada yang serupa dengan perkataannya, ‘Kemarilah! (kaum).’

Orang itu bertanya, ‘Apa pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia tidak bertemu dengan mereka.’

Beliau pun menjawab, ‘Seseorang itu bersama orang yang dia cintai.’” []

Sumber: Kisah Para Tabiin/Penulis:Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi /Penerbit:Ummul Qura

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline