Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Kedua Telapak Kaki Jibril Menginjak Ufuk Langit

0 42

Setelah Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam mendapatkan wahyu pertamanya yang turun di gua Hira selanjutnya Khadijah membawa beliau pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, anak paman Khadijah.

Waraqah adalah seorang Nashrani semasa Jahiliyah. Dia menulis buku dalam bahasa Ibrani dan juga menulis Injil dalam bahasa Ibrani. Dia sudah tua dan buta.

Khadijah berkata kepada Waraqah, “Wahai sepupuku, dengarkanlah kisah dari saudaramu (Rasulullah).”

Waraqah bertanya kepada beliau, “Apa yang pernah engkau lihat wahai saudaraku?”

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam mengabarkan apa saja yang telah dilihatnya. Akhirnya Waraqah berkata, “Ini adalah Namus yang diturunkan Allah kepada Musa. Andaikan raja aku masih muda pada masa itu. Andaikan saja aku masih hidup tatkala kaummu mengusirmu.”

“Benarkah mereka akan mengusirku?” Beliau bertanya.

“Benar. Tak seorang pun pernah membawa seperti yang engkau bawa melainkan akan dimusuhi. Andaikan aku masih hidup pada masamu nanti, tentu aku akan membantumu secara sungguh-sungguh.”

Waraqah meninggal dunia pada saat-saat turun wahyu. Ath-Thabari dan Ibnu Hisyam meriwayatkan, yang intinya menjelaskan bahwa beliau pergi meninggalkan gua Hira’ setelah mendapat wahyu, lalu menemui istri beliau dan pulang ke Makkah.

Adapun riwayat Ath-Thabari menyebutkan sekilas tentang sebab keluarnya beliau dari Gua Hira’. Inilah riwayatnya. Rasulullah bersabda, “Tidak ada makhluk Allah yang paling kubenci selain dari penyair atau orang yang tidak waras. Aku tidak kuat untuk memandang keduanya.”

Beliau juga bersabda, “Yang paling ingin kujauhi adalah penyair atau orang yang tidak waras. Sebab orang-orang Quraisy senantiasa berbicara tentang diriku dengan syair itu. Rasanya ingin aku mendaki gunung yang tinggi, lalu menerjukan diri dari sana agar aku mati saja, sehingga aku bisa istirahat dengan tenang.”

Beliau bersabda lagi, “Maka aku pun pergi dan hendak melakukan hal itu. Namun di tengah gunung, tiba-tiba kudengar suara yang datangnya dari langit, berkata,”Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku Jibril.”

Aku mengongakkan kepala ke arah langit, yang ternyata di sana ada Jibril dalam rupa seorang laki-laki dengan wajah yang berseri, kedua telapak kakinya menginjak ufuk langit, seraya berkata, “Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah dan aku Jibril.”

Aku berdiam diri sambil mcmandangnya, bingung apa yang hendak kukerjakan, tidak berani melangkah maju atau mundur. Aku memalingkan wajah dari arah yang ditempati Jibril di ufuk langit. Tetapi setiap kali aku memandang arah langit yang lain, di sana tetap ada Jibril seperti yang kulihat. Aku tetap diam, tak selangkah kaki pun maju ke dcpan atau surut ke belakang, hingga akhirnya Khadijah mengirim beberapa orang untuk mencariku.

Bahkan mereka sampai ke Makkah dan kembali lagi menemui Khadijah tanpa hasil, padahal aku tetap berdiri seperti semula di tempatku berdiri. Kemudian Jibril pergi dariku dan aku pun pulang kembali menemui keluargaku. Sesampainya di rumah aku langsung duduk di atas paha Khadijah sambil bersandar kepadanya.

“Wahai Abu Qasim, kemana saja engkau tadi? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa orang untuk mencarimu hingga mereka sampai ke Makkah, namun kembali lagi tanpa hasil,” kata Khadijah.

Kemudian aku memberitahukan apa yang telah kulihat.

Dia berkata “Bergembiralah wahai anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi diri Khadijah yang ada di Tangan-Nya, aku benar-benar sangat berharap engkau menjadi nabi umat ini.”

Setelah itu Khadijah beranjak pergi untuk menemui Waraqah dan mengabarkan kepadanya. Waraqah berkata, “Mahasuci, Mahasuci. Demi diri Waraqah yang ada di Tangan-Nya, Namus yang besar yang pernah datang
kepada Musa kini telah datang kepadanya. Dia adalah benar-benar nabi umat ini. Katakanlah kepadanya, agar dia berteguh hati.”

Khadijah pulang lalu mengabarkan apa yang dikatakan Waraqah kepadanya. Tatkala Rasulullah meninggalkan istrinya dan pergi ke Makkah, beliau bertemu Waraqah. Setelah mendengar penuturan langsung dari beliau, Waraqah berkata, “Demi diriku yang ada di Tangan-Nya, engkau adalah benar-benar nabi umat ini. Nama yang besar telah datang kepadamu, seperti yang pernah datang kepada Musa.” []

Sumber: Sirah Nabawiyah/ Penulis: Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri/ Penerbit: Al-Kautsar,1997

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements

you're currently offline