Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Ka’ab bin Malik Dihukum Nabi (Bagian 2 Habis)

0

Salah satu perang kenamaan di masa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam adalah Perang Tabuk. Perang ini terjadi pada tahun ke-9 Hijriah, tepatnya pada bulan Rajab. Berdasarkan beberapa riwayat, perang ini merupakan perang yang berat karena cuaca yang kering, keadaan paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh.

BACA JUGA: Tatkala Ka’ab bin Malik Dihukum Nabi (Bagian 1)

Sahabat yang sudah pasti mendengar kabar mangkirnya Ka’ab pun menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui tentang hal itu,”

Ka’ab bin Malik semakin kesulitan. Kemudian pada hari keempat puluh, Nabi menambahkan bahwa Ka’ab bin Malik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut perang tersebut diminta untuk tidak mendekati istri-istri mereka.

Tak terasa, hukuman itu terjadi sampai lima puluh hari. Pada hari kelima puluh itu, Ka’ab bin Malik melakukan shalat sebelum fajar, lantas mengadukan masalahnya kepada Allah.

“Ka’ab!” terdengar suara Nabi memanggil. Ka’ab bin Malik terkejut.

“Sungguh, ampunan Allah sudah tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berseri-seri.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan tiga ayat dari surah At-Taubah, yaitu ayat 117 sampai 119 yang menjelaskan tentang ampunan Allah untuk mereka bertiga.

“Sesungguhnya Allah telah menerima tobat Nabi, orang-orang muhajirin dan orang-orang Ansar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka, dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah: 117-119)

Ka’ab merasa bahagia, yang dalam riwayat disebutkan bahwa ia tak pernah sebahagia itu sejak dilahirkan ibunya. Kejujurannya berbuah manis, meski ia harus menanggung konsekuensi atas alasan yang ia sampaikan akibat keterlambatannya mengikuti perang.

BACA JUGA: Sebab Turunnya Surat Yasiin Ayat 77-83

Dan memang diriwayatkan bahwa alasan keteledoran mereka itu, bukanlah bermaksud untuk berpaling dari kewajiban perang, sehingga Allah mengampuni mereka bertiga. Setiap kejujuran memang sering berimbas pahit, namun bagaimanapun, ia adalah sikap berani mempertanggungjawabkan kesalahan, sebagaimana dicontohkan Ka’ab bin Malik dan dua sahabat itu.

Wallahu A’lam []

Sumber: Kitab Sirah Nabawiyyah/Karya: Ibnu Hisyam

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline