Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Hafsh bin Ghiyats Menjadi Hakim di Pengadilan Baghdad

0 2

Seseorang dari penduduk Khurasan menjual beberapa ekor unta seharga 30.000 dirham kepada seseorang yang bernama Marzuban Majusi. Lalu Marzuban menunda-nunda pembayaran unta itu. Oleh karenanya, orang Khurasan itu datang kepada para sahabat Hafsh bin Ghiyats untuk merninta pertimbangan kepada mereka. Dia pun bertemu dengan salah seorang dari mereka dan meminta pertimbangan kepadanya.

Maka sahabat Hafsh itu berkata, “Pergilah kepadanya dan katakan kepadanya, `Berikanlah kepadaku 1000 dirham, adapun selebihnya terserah kamu, dan aku akan pergi ke Khurasan.’ Apabila dia melakukannya, maka datanglah kemari lagi sehingga aku bisa meberikan pertimbangan kepadamu lagi.”

Orang Khurasan itu pun melakukan nasihat dari sahabat Hafsh, lalu Marzuban Al-Majusi membayarkan 1000 dirham kepadanya. Kemudian orang Khurasan itu kembali lagi kepada sahabat Hafsh dan memberitahukan hal tersebut kepadanya.

Maka sahabat Hafsh pun berkata, “Kembalilah kepadanya dan katakanlah, ‘Apabila esok hari engkau menunggangi unta itu, maka pergilah kepada hakim (Hafsh bin Ghiyats)’.”

Kemudian Marzuban pun pergi menemui Hafsh, dan kedua orang itu pun berdiri di hadapan Hafsh.

Lalu orang Khurasan berkata, “Semoga Allah memperbaiki keadaan hakim. Dia memiliki piutang kepadaku sebanyak 29.000 dirham.”

Maka Hafsh berkata, “Bagaimana menurutmu, wahai Majusi?”

Orang Majusi menjawab, “Dia benar.”

Maka Hafsh berkata kepada orang Khurasan, “Bagaimana pendapatmu, dia telah mengakuinya?”

Orang Khurasan menjawab, “Dia harus memberikan uangku.”

Maka Hafsh berkata kepada orang Majusi, “Bagaimana menurutmu?”

Orang Majusi menjawab, “Uang ini tanggungan sayyidah Ummu Jafar, sedangkan aku hanya wakilnya.”

Maka Hafsh berkata, “Engkau dungu! Tadi engkau mengakui bahwa uang itu tanggunganmu, kemudian engkau mengatakan bahwa uang ini tanggungan sayyidah Ummu Ja’far.”

Kemudian Hafsh memandang kepada orang Khurasan seraya berkata, “Bagaimana menurutmu?”

Orang Khurasan menjawab, “Semoga Allah memperbaiki keadaan hakim. Dia harus membayarkan uangku, jika tidak berarti engkau harus memenjarakannya.”

Hafsh berkata, “Bagaimana menurutmu, wahai Majusi?”

“Uang itu tanggungan sayyidah Ummu Jafar,” Orang Majusi menjawab.

Maka hakim Hafsh berkata, “Bawalah dia ke penjara.”

Kernudian berita itu sampai kepada Ummu Al Manshur, maka dia pun marah karena pegawainya Al-Majusi itu dipenjarakan. Dia mengirimkan utusan kepada pemimpin kepolisian yang bernama Sindi dan berkata kepadanya, “Behaskanlah Marzuban Al- Majusi, dan antarkanlah dia kepadaku.”

Maka As-Sindi pun membebaskan Marzuban tanpa sepengelahuan Hafsh bin Ghiyats Al-Qadhi.

Kemudian ketika Hafsh mengetahuinya, dia pun marah dan berkata, “Aku yang memenjarakannya, lalu As-Sindi yang membebaskannya? Aku tidak akan lagi duduk sebagai hakim jika Marzuban Al-Majusi tidak dikembalikan ke penjara.”

Berita itu pun sampai kepada As-Sindi. Maka As-Sindi pun pergi menemui Ummu la’far untuk memohon kepadanya.

Dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya dia adalah Hafsh bin Ghiyats. Dan aku takut jika nanti Amirul Mukminin akan berkata kepadaku, ‘Dengan perintah dari siapa engkau membebaskan Majusi?’ Kembalikanlah dia ke penjara, semoga Allah akan melimpahkan rahmat kepadamu. Sementara aku akan berbicara kepada Hafsh tentang urusannya itu.”

Sayyidah Ummu Ja’far pun setuju untuk mengembalikan pegawainya—Marzuban Al-Majusi—ke penjara. Kemudian sayyidah Ummu Ja’far mengadukan perkara itu kepada Harun Ar-Rasyid seraya berkata, “Hakimmu dungu, dia memenjarakan wakilku dan meremehkannya. Maka perintahkanlah perkara ini kepada hakim Abu Yusuf.”

Maka Harun pun memerintahkan kepadanya sesuai dengan permintaan wanita itu. Lalu berita itu sampai kepada Hafsh, maka dia berkata kepada orang Khurasan, “Hadirkanlah saksi, sehingga aku dapat menentukan hukum terhadap orang Majusi itu untuk membayarkan uang tersebut.”

Amirul Mukminin Harun Ar-Rasyid pun mengetahui niat Hafsh, maka dia pun mengirimkan surat kepadanya mengenai hal tersebut. Akan tetapi Hafsh telah memutuskan perkara tersebut sebelum dia membaca surat dari Amirul Mukminin.

Ketika proses pengadilan itu sedang berlangsung, surat dari Amirul Mukminin sampai kepadanya, maka dia berkata kepada orang yang membawa surat itu, “Simpanlah dulu surat itu bersamamu sebentar, sampai aku menyelesaikan urusanku.”

Kemudian setelah dia menyelesaikan tugasnya, dia mengambil surat dari Amirul Mukminin dan membacanya. Lalu dia berkata kepada orang yang membawa surat itu, “Beritahukanlah kepada Amirul Mukminin bahwa suratnya telah sampai, namun kami telah menetapkan keputusan.”

Maka orang yang membawa surat itu berkata, “Demi Allah, aku tahu apa maksudmu. Engkau tidak mau mengambil surat Amirul Mukminin ini sampai engkau menyelesaikan apa yang engkau inginkan. Demi Allah, aku akan memberitahukan kepadanya apa yang telah engkau lakukan.”

Hafsh pun berkata, “Katakanlah kepadanya apa yang engkau suka.”

Pelayan itu pun berlalu pergi dan memberitahukan hal tersebut kepada tuannya, Harun Ar-Rasyid.

Maka Amirul Mukminin pun tertawa seraya berkata kepada pengawalnya, “Perintahkanlah untuk memberikan tiga puluh ribu dirham kepada Hafsh.”

Pengawal itu pun pergi menemui Hafsh dan menyampaikan kepadanya, “Sesungguhnya pada hari ini Amirul Mukminin merasa gembira karenamu, dan dia memerintahkan untuk memberikan sejumlah uang kepadamu. Apakah yang menyebabkannya demikian?”

Maka Hafsh berkata, “Semoga Allah menyempurnakan kebahagiaan Amirul Mukminin, serta memperbaiki penjagaan dan perlindungan-Nya. Aku tidak menambahkan apapun atas apa yang biasa aku lakukan setiap hari, dan aku tidak mengetahui apapun kecuali aku telah menetapkan keputusan terhadap Marzuban Al-Majusi atas apa yang wajib dia penuhi.”

Pengawal itu berkata, “Inilah yang telah mernbuat Amirul Mukminin merasa bahagia.”

Hafsh menjawab, “Alhamdulillah katsiran.”

Lalu Ummu Jalar berkata kepada Harun Ar-Rasyid, “Bukan aku, dan bukan pula engkau, kecuali engkau harus memberhentikan Hafsh.”

Namun Amirul Mukrninin mengabaikan permintaannya itu. Kemudian Ummu falar terus mendesaknya, maka Amirul Mukminin pun memberhentikan Hafsh bin Ghiyats dari pengadilan Baghdad, dan memberikan kekuasaan kepadanya di pengadilan Kufah saja. Maka Hafsh pun tetap menjadi hakim di Kufah selama tiga belas tahun. []

Sumber: Kisah Para Tabiin/Penulis:Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi /Penerbit:Ummul Qura

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline