Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Abu Ja’far Menyeberangi Sungai Eufrat

0

Dalam keadaan terbelenggu rantai, Imam Ahmad menghadap penguasa dzalim al Ma’mun sementara hukuman berat telah mengancam dirinya sebelum dia sampai ketempatnya, sehingga pembantu imam ahmad berkata kepada al Imam, “Aku Sungguh khawatir wahai Abu Abdillah (Imam Ahmad), sebab al Ma’mun telah menghunuskan pedangnya yang selama ini belum pernah dia lakukan, dan atas kerabatnya dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dia telah bersumpah, jika engkau tidak menuruti kehendaknya untuk menyatakan bahwa Al Qur’an adalah Makhluk niscaya dia akan membunuhmu dengan pedang tersebut.” [ al Bidayah wan Nihayah 1/332 ]

Dari riwayat diatas mengisahkan bahwa pembantu Imam Ahmad tidak ingin terjadi pembunuhan kepada al-imam, maka pembantu al-imam memberi usul pada beliau untuk menuruti perkataan al-Ma’mun yang penting hati kita tidak menyetujuinya.

Baca juga: Melarang Kemungkaran dengan Hati, Tangan dan Lidah

Namun, al-imam Ahmad tetap teguh pada imannya dan tidak ingin mengucapkan kalimat kufur itu. Disisi lain ada seseorang bernama Abu Ja’far al Anbari, kemudian beliau saking ingin mensuport al imam dalam menghadap al Ma’mun sampai berkorban melewati sungai eufrat,

Abu Ja’far al-Anbari berkata, “Aku diberitahu saat Imam Ahmad dibawa menghadap al-Ma’mun, maka aku segera menyebrangi sungai eufrat, setelah tiba aku dapati Imam Ahmad ditempatnya, maka aku memberi salam padanya”

Lalu Imam Ahmad berkata padaku, “Wahai Abu Ja’far, engkau telah menyusahkan dirimu,”

Lalu aku menjawab, “Wahai Imam, engkau sekarang ini adalah pemimpin umat dan semua orang mengikutimu, Demi Allah jika engkau mengakui al Qur’an adalah Makhluk, niscaya semua orang akan mengatakan yang serupa padamu, dan jika engkau tidak mengucapkanya maka orang banyak tidak mengucapkanya, sementara itu jika engkau tidak mati dibunuh oleh al Ma’mun, toh engkau juga akan mati, bertakwalah pada Allah dan jangan turuti kemauan mereka.”

Maka Imam Ahmad Menangis seraya berkata “Masya Allah.”

Kemudian beliau berkata : “Wahai Abu Ja’far Ulangilah…”, maka aku mengulanginya dan beliau berkata : “Masya Allah.”

Baca juga: Tuduhan Keji hingga Hukuman Mati

Riwayat diatas menjelaskan betapa pentingnya peran dari seorang Imam Ahmad Bin Hanbal sebagai Ulama pada masa-nya , dengan kata lain bahwa umat senantiasa menunggu fatwa beliau agar kaum muslimin bersikap sesuai fatwa beliau, ini membuktikan al Imam Ahmad adalah Ulama panutan pada masanya sampai-sampai abu ja’far menyeberangi sungai eufrat, yang awalnya al Imam menggap itu perkara yang menyusahkan abu ja’far sedangkan abu ja’far hanya menyampaikan kepada Al Imam untuk mensuport agar tidak mengatakan “al Qur’an Makhluk” maka Al Imam terharu dan menangis. [ Siyar a’lam Nubala]

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline