Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tatkala Abu Bakar Masuk pada Pertengkaran Rasulullah dan Aisyah

Hari itu entah mengapa Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin sekali menengok Rasulullah ﷺ yang sedang berada di bilik Aisyah. Sahabat dan mertua beliau yang satu ini merupakan khalifah pertama dalam sejarah Islam (11-13 H/632-634 M) yang bernama lengkap ‘Abdullah bin Abu Quhafah ‘Utsman bin ‘Amir bin ‘Umar bin Ka’b bin Sa’d bin Taim bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ayyi bin Thalib bin Fihr bin Nadr bin Malik Al-Taimi Al-Qurasyi, dengan nama ‘Abdul Ka’bah. Sedangkan ibunya, Ummu Khair Salma binti Sakhr, seorang perempuan dari suku Quraisy. Dia lahir dua tahun setelah Tahun Gajah atau lebih muda dua tahun dari Rasulullah ﷺ, yakni pada 573 M. Nama kecilnya adalah ‘Abdul Ka’bah yang berarti “Hamba Ka’bah”.

Khalifah yang berasal dari Bani Tamim ini telah menjadi sahabat karib beliau sebelum beliau menjadi Nabi. Malah, beliaulah yang mengubah namanya menjadi ‘Abdullah. Kemudian, ketika beliau diutus sebagai Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi pria dewasa pertama yang mengakui kedudukan beliau sebagai Nabi. Keislamannya mendorong sejumlah tokoh Quraisy mengikuti jejak langkahnya. Di antara mereka adalah ‘Utsman bin ‘Affan, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf.

Ketika Rasulullah ﷺ meninggalkan Makkah, pada malam hari 12 Rabiul-Awwal tahun pertama Hijrah yang bertepatan dengan 28 Juni 622 M, dan berhijrah ke Madinah, Abu Bakar dipilih beliau untuk menyertai beliau. Kemudian, ketika Rasulullah ﷺ wafat, dia diangkat sebagai khalifah. Selama Abu Bakar menduduki jabatan khalifah, Islam semakin mengepakkan sayapnya. Agama ini pun mulai memasuki kawasan yang berada di bawah kekuasaan Imperium Romawi dan Persia. Namun, karena masa pemerintahannya yang pendek, perluasan ke arah kedua kawasan itu baru benar-benar terpancang kuat pada masa pemerintahan ‘Umar bin Khattab.

Read More

Rencana jitu Hijrah Rasulullah

Sebelum wafat, Abu Bakar berpesan agar umat Islam mengangkat ‘Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Setibanya Abu Bakar Ash-Shiddiq di rumah sang putri, dia pun meminta izin untuk masuk. Saat itu, dia mendengar aisyah sedang berbicara dengan Rasulullah ﷺ dengan suara melengking. Kemudian ketika dia diizinkan masuk, lalu dia berkata kepada sang putri, “Aisyah! Aku tadi mendengar engkau berkata dengan suara yang lantang di hadapan Rasulullah.”

Lalu, Abu Bakar mengangkat tangannya untuk menampar sang putri. Tapi, Rasulullah ﷺ mencegahnya, Melihat sang mertua berlalu, Rasulullah ﷺ pun berkata kepada sang istri tercinta, “Tidakkah engkau melihat bagaimana aku telah menyelamatkanmu dari ayahmu Beberapa hari kemudian, Abu Bakar Ash-Shiddiq berkunjung lagi dan mendapatkan sang menantu dan sang putri telah berbaikan. Maka, dia pun berkata, “Ikutkanlah aku dalam kedamaian kalian berdua setelah melibatkan aku dalam ‘perang’ kalian berdua.”

“Kami telah melakukan apa yang engkau usulkan itu,” jawab Rasulullah ﷺ penuh hormat kepada sang mertua.[]

Sumber: Rumah Cinta Rasulullah: Kisah-Kisah Indah Seputar Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah/ Penulis: Muhammad Rofi Usmani/ Penerbit: Mizan, 2007

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline