Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tangisan-tangisan yang Menusuk Benak Umar

Tangisan dari anak-anak kecil di suatu rumah terus mengalun samar di telinga Umar bin Khattab. Tangis itu memecah sepi dan kehangatan malam di kota Madinah.

BACA JUGA: Berapa Gaji Umar bin Khattab?

Tak lama, iba dan rasa kasihan membuncah di benak Umar. Dengan segera, ia pun menghampiri danbertanya mengapa mereka menangis. Dengan sedih, dia berkata pada Umar bahwa dia tidak memiliki makanan di rumah, hanya ada air di dalam panci di atas api.

Nyatanya, ibu dari anak-anak malang di rumah itu berpura-pura memasak sesuatu sampai anak-anak tertidur. Umar terkejut oleh kesengsaraan yang dia saksikan dan pikirkan. Sebagai Khalifah, dia bertanggung jawab atas kemalangan salah satu warganya.

Setelah mendengar curahan hati wanita itu, Umar bergegas pergi. Bersama pelayannya, Umar pergi ke gudang negara dan kembali membawa tepung, mentega, kurma, pakaian, dan uang.

Setelah sampai, tanpa banyak berkata-kata, Umar mulai memasak makanan itu sendiri. Setelah semua orang makan, Umar mulai bermain dengan anak-anak kecil dan merangkak di sekitar mereka seolah-olah dia kuda sehingga ia membuat mereka tertawa dan tertawa.

Umar berkata, “Saya datang ke rumah ini ketika mereka menangis dan saya ingin meninggalkan mereka sampai saya melihat mereka tertawa.”

BACA JUGA: Saat Umar Menghakimi

Tanpa mengetahui sebenarnya siapa pria itu, dengan hormat sang wanita menjawab, “Semoga Allah memberkahi Anda.” []

Sumber: Ummah/ Commander of the Faithful – Umar ibn al Khattab r.a.

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More