Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Tak Ada Lagi Ksatria yang Menepati Janji (Bagian 2 Habis)

Suatu hari, Umar bin Khattab sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu. Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

BACA JUGA: Kisah Salman, Tak Ada Lagi Ksatria yang Menepati Janji (Bagian 1)

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang, “Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin”.

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

“Salman?” hardik Umar marah, “kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini.”

“Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya,” jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatan
gan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

BACA JUGA: Kisah Salman Al-Farisi Mencari Cahaya Islam

”Itu dia!” teriak Umar.

“Dia datang menepati janjinya!”

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan, maafkan, aku, wahai Amirul Mukminin,” ujarnya dengan susah payah,

“Tak kukira, urusan kaumku menyita banyak waktu.”

”Kupacu tungganganku tanpa henti, hingga ia sekarat di gurun. Terpaksa kutinggalkan, lalu aku berlari dari sana,” dengan suara yang terputus-putus ia berusaha menjelaskan semuanya. Dan ini menjadi bukti jika pemuda itu menepati janjinya.

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum, “mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan, ‘Di kalangan Muslimin, tak ada lagi ksatria yang menepati janji,” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya, “Lalu kau, Salman, mengapa mau-maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?”

Kemudian Salman menjawab, “Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya.”

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!” Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian,” ujar Umar.

“Apa maksudnya ini?” Umar semakin haru.

BACA JUGA: Saat Nabi Meminta Sahabat untuk Berjanji 6 dan 4 Perkara

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana, ”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya.”

”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang. []

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline