Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Taburkan Debu Ke Wajahnya!

0

Pujian ialah suatu ungkapan kekaguman atas kemampuan atau kelebihan yang dimiliki seseorang. Namun pujian ternyata juga ada pujian tercela, maksudnya adalah pujian yang bisa menyebabkan orang yang dipuji merasa bangga diri.

Dari Abu Bakar, beliau menceritakan bahwa ada orang yang memuji temannya yang ada disamping Nabi, maka Nabi bersabda, “Celakalah kamu, kmau telah menggorok leher saudaramu. Kamu telah menggorok leher saudaramu.”

Nabi mengucapkan beberapa kali, lalu Nabi bersabda, “Barangsiapa yang terpaksa harus memuji saudaranya, maka katakanlah, ‘Aku kira si A demikian dan demikian. Namun bahwasannya hanya Allah yang dapat menilai keadaan yang sebenaranya. Aku tidak mau memberikan rekomendasi atasa nama Allah kepada seseorangpun.’ Jika memang kelebihan itu ada pada dirinya.”

Terdapat pula dari Abu Musa, beliau menceritakan bahwa Nabi mendengar ada orang yang memuji saudaranya secara berlebihan. Maka Nabi bersabda, “Kalian telah mematahkan punggung saudara kalian itu atau kalian telah membinasakannya.”

Ibnu Baththal menyimpulkan bahwa larangan itu diperuntukkan bagi orang yang memuji orang secara berlebihan dengan pujian yang tidak layak dia terima. Dengan pujian ini orang tersebut dikhawatirkan akan merasa bangga diri, karena orang yang dipuji bisa mengira kalau dia memang memiliki sifat tersebut.

Sehingga terkadang dia akan menyepelekan atau tidak bersemangat untuk menambah amal kebaikan karena ia merasa yakin dengan kebenaran pujian tersebut. Oleh karena itu para ulama menjelaskan bahwa makna hadits: “Taburkanlah debu ke muka orang yang memuji orang lain!’ Berlaku untuk orang yang memuji orang lain namun dengan cara yang berlebihan.

Dari Hammam hin Al Harits, beliau bercerita bahwa ada seorang yang memuji Utsman. Miqdad lalu duduk berlutut. Al Miqdad adalah orang yang bertubuh besar. Beliau pun akhirnya menaburkan batu kerikil kepada orang tadi.

Utsman lalu berkata, “Apa yang sedang kamu lakukan?”

Al Miqdad mengatakan bahwa Nabi bersabda, “Jikalau kalian melihat ada orang yang memuji orang lain maka taburkan debu ke mukanya.”

Tidak diragukan Iagi bahwa memuji orang Iain adalah penyakit lisan jika menyebabkan orang yang dipuji merasa bangga diri atau jika pujian itu dilakukan secara serampangan atau melampaui batas. Namun andai pujian itu tidak mengandung hal-hal yang tersebut, maka hukumnya diperbolehkan.

Imam Bukhari menyebutkan bahwa Sa’ad berkata, “Tidak pernah kudengar Nabi menyebut kepada seseorang yang berjalan di muka bumi ini sebagai calon penghuni surga kecuali hanya kepada Abdullah bin Salam.”

Dari Musa bin Uqbah dari Salim dari bapaknya, beliau menceritakan bahwa Rasulullah suatu ketika menjelaskan tentang permasalahan pakaian yang berada di bawah mata kaki. Abu Bakar berkata: “Wahai Rasulullah, sarungku selalu turun pada salah satu sisinya.”

Nabi bersabda, “Engkau tidak termasuk mereka.”

Bentuk pujian pada hadits Musa bin Uqbah di atas hukumnya diperbolehkan. Hal ini merupakan pengecualian dari larangan sebelumnya. Patokannya adalah jika pujian yang diberikan tidak dengan berlebihan dan orang yang dipuji tidak dikhawatirkan merasa bangga diri, maka hukum pujian yang seperti ini diperbolehkan. Contoh lain dari pujian yang diperbolehkan adalah hadits-hadits yang menceritakan kelebihan para sahabat. []

Sumber: Akhlak Hubungan Vertikal/ Penulis: M Alaika  Salamullah/ Penerbit: Pestaka Insan Madani, 2008

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline