Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Syarik: Celakalah Engkau, Kuda Itu Lebih Taat kepada Allah daripada Engkau

Umar ibnul Hayyaj mengatakan, “Aku adalah salah seorang sahabat Syarik. Pada suatu pagi, aku mendatangi Syarik di rumahnya. Ketika ia keluar (ke ruang depan) untuk menemuiku, aku melihatnya mengenakan jubah dari bulu yang tidak dilapisi pada bagian dalamnya dengan gamis dan tidak berbaju.

Lalu kutanyakan kepadanya, ‘Engkau belum beranjak pergi ke mahkamah?’

Ia menjawab, ‘Kemarin aku mencuci pakaianku dan belum kering sampai sekarang, jadi aku sedang menunggu bajuku kering. Silakan duduk!’

Aku duduk, dan kami mulai bermuzakarah tentang babul’abdi yatazawwaju bi ghairi izni mawalihi (bab hamba sahaya menikah tanpa seizin tuannya), lalu ia menanyakan kepadaku, “Apa yang engkau hafal tentang bab ini? Dan bagaimana menurutmu?”

Sementara itu, Khaizurad telah menyuruh seorang laki-laki untuk mencari penyulamnya yang lari ke Kufah. Amir negeri Kufah pun telah menerima perintah agar jangan menghalangi orang tersebut, karena ia berperilaku semena-mena; semua perintahnya harus dituruti, hingga wali negeri pun tidak punya kuasa apa-apa terhadap diri orang tersebut.

Maka pada hari itu, laki-laki tersebut bersama sekelompok kawannya keluar dari sebuah lorong sempit yang tembus ke sebuah perkampungan kecil. Ia mengenakan jubah yang ditenun dengan sutra, dan jubah hijau di atas birdzaun (kuda tarik) yang ditungganginya, sambil memukuli seseorang di depannya.

Ketika sampai ke rumah qadhi, lelaki yang dipukul itu berteriak, ‘Tolong! Aku mohon pertolongan Allah, dan kemudian qadhi.’

Syarik membuka pintu dan keluar, kemudian memanggil laki-laki yang ber teriak minta tolong itu. Maka pada saat itu terlihat punggung laki-laki itu penuh dengan memar bekas pukulan.

Lantas Syarik membawa si laki-laki duduk di sampingnya sambil bertanya, ‘Ada apa dengan engkau?’

Lelaki itu menjawab, ‘Aku seorang pandai menyulam. Pekerjaanku membordir pakaian, dan tarif upahanku sebesar 100 dirham per bulan. Akan tetapi si fulan ini membawaku secara paksa sejak empat bulan yang lalu. Aku dikurung dan dipaksa bekerja dengan tenagaku. Sesudah itu aku tidak diberikan ongkos upahan, sedangkan aku punya anak-anak yang sudah tidak ketahuan lagi nasib mereka. Oleh karenanya, aku melarikan diri, tetapi dia terus mengejar dan memukuli badan dan pundakku.’

Setelah mendengar pengaduan itu, Syarik berkata kepada suruhan itu, ‘Bangun, dan duduklah di samping lawanmu ini!’

Tapi laki-laki suruhan itu berkata, “Ashlahakallah ya Abdallah (Semoga Allah meluruskanmu, wahai hamba Allah), si fulan ini adalah pelayan puannya, dan apa yang kulakukan merupakan perintah puannya itu. Maka aku mengurungnya, supaya ia dapat melayani puannya.’

Perkataan itu langsung dibalas dengan lantang oleh Syarik, ‘Celakalah engkau! Berdiri dan duduklah bersama lawanmu, seperti yang telah kukatakan!’

Orang suruhan itu pun berdiri dan duduk di samping lawannya. Kemudian Syarik bertanya kepada orang suruhan itu, ‘Bekas apa yang terlihat di punggung ini? Siapa yang melakukannya?’

Ia menjawab, ‘Ashlahallahul Qadhi (Semoga Allah luruskan urusan tuan Qadhi). Aku hanya memecutnya beberapa kali, yang semestinya ia berhak dipukul lebih dari itu karena tidak bekerja untuk puannya. Aku mengurungnya hingga ia mau bekerja, dan itu perintah dari puannya.’

Syarik melemparkan kain serbannya, lalu bangkit dan masuk ke rumah. Kemudian keluar lagi dengan cemeti di tangan dan memecut orang suruhan itu. Syarik juga menyuruh orang yang dipukuli tadi supaya pulang menemui keluarganya, sambil terus memukul orang suruhan itu.

Teman-teman orang suruhan itu berniat maju untuk melepaskannya, akan tetapi Syarik mengatakan, ‘Mana pemuda-pemuda yang berasal dari kampung?’

Sekelompok pemuda kemudian maju mendatanginya, lalu Syarik berkata kepada mereka, ‘Kalau ada di antara orang-orang ini (teman-teman si orang suruhan) yang bangun, bawa dan masukkan ke dalam kurungan!’

Mendengar itu, teman-teman orang suruhan itu pun lari tunggang-langgang, meninggalkan si orang suruhan sendiri. Syarik terus memecut orang itu sampai dirasanya sudah cukup, baru dilepasnya. Kemudian, si laki-laki suruhan pergi sambil mengancam akan pembalasan puannya.

Syarik mencampakkan cemetinya dan kembali melanjutkan muzakarah kami tadi, seakan tidak terjadi suatu pun, dan bertanya kepadaku, ‘Wahai Abu Hafshin! Bagaimana pendapatmu tentang hamba sahaya yang menikah tanpa seizin tuannya?’

Sementara di luar, orang suruhan tadi terlihat ingin menunggangi kudanya, tetapi kuda tersebut tidak menurutinya. Di samping tidak ada yang memegang sanggurdinya. Akhirnya orang itu memukul kudanya.

Menyaksikan hal itu, Syarik pun berteriak dari dalam, ‘Pelan, pelan! Wailak (celakalah engkau), kuda itu lebih taat kepada Allah daripada engkau’

Orang itu pun kemudian terpaksa pergi dengan berjalan kaki.

Lantas Syarik berkata kepadaku, ‘Mari kita melanjutkan pembahasan kita!’

Tapi aku mengatakan kepadanya, ‘Sekarang, bagaimana kita bisa melanjutkan muzakarah. Demi Allah, engkau telah melakukan suatu perbuatan yang akibatnya akan buruk, yakni siapa yang memukul orang suruhan Khaizuran berarti seolah memukul dia, siapa memukul dia, berarti seolah memukul khalifah.’

Syarik mengatakan, ‘Muliakanlah perintah Allah, Allah akan memuliakanmu. Mari kita teruskan permasalahan tadi!’

Kami pun kemudian kembali bermuzakarah tentang seorang hamba sahaya yang menikah tanpa seizin tuannya. Sementara itu, orang suruhan itu datang mengadu sambil menangis dan memperlihatkan punggungnya kepada Musa bin Isa (amir Kufah).

Melihat bekas pukulan di punggung laki-laki itu, Musa menjadi ngeri dan amat marah seraya bertanya, ‘Siapa yang telah melakukan ini kepadamu?’

Ia menjawab, ‘Syarik.’

Mendengar nama itu, langsung Musa mengatakan, ‘Tidak, demi Allah, aku tidak mau berurusan dengan Syarik!’

Si orang suruhan mengancam, ‘Kalau begitu, aku akan melaporkan engkau kepada puanku.’

Tapi Musa tetap berkata, ‘Tidak, aku tidak akan mau berurusan dengan Syarik!’

Maka orang suruhan itu pun pergi dan tidak pernah kembali. []

Sumber: Ar-Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam/Penulis: Said Hawwa/Penerbit: Gema Press,2003

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline