Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Surah yang Diturunkan sebagai Pembenaran untuk Zaid

0

Zaid mengikuti peperangan Bani Musthaliq. Usai peperangan, ketika masih menetap di Muraisi, sempat terjadi ketegangan antara kaum Muhajirin dan Anshar, yang dipicu oleh persenggolan ketika mengambil air di mata air, antara Jahjah al Ghifary, orang upahan Umar bin Khaththab, dan Sinan bin Wabar al Juhanny, salah seorang sahabat Anshar. Perselisihan ini sendiri sebenarnya telah bisa didamaikan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tetapi tokoh munafiq, Abdullah bin Ubay mengomentari peristiwa itu, ia berkata kepada kaumnya, “Inilah yang kalian lakukan, andaikata kalian tidak memberikan harta kalian kepada mereka, tentu mereka akan berpindah ke tempat lain. Demi Allah, jika kita telah kembali ke Madinah, maka penduduknya yang mulia akan benar-benar mengusir penduduknya yang hina.”

BACA JUGA: Tatkala Zainab Memberikan Salah Satu Kain Kafannya

Zaid bin Arqam RA adalah seorang Anshar yang telah memeluk Islam ketika masih anak-anak. Ketika terjadi perang Uhud, ia bergabung dengan pasukan muslim yang siap berangkat, tetapi keberadaannya diketahui oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan beliau memulangkannya, karena ia masih sangat muda. Ia sangat sedih dengan larangan Rasulullah ini.

Zaid bin Arqam, yang memang satu kabilah dengan tokoh munafik itu, begitu mendengar ucapan Abdullah bin Ubay ini merasa tidak senang, ia menyampaikan hal itu kepada pamannya, dan pamannya mengabarkannya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Umar bin Khattab yang saat itu bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, meminta beliau agar menyuruh Abbad bin Bisyr RA membunuh tokoh munafik ini, tetapi beliau tidak mengijinkannya.

Abdullah bin Ubay adalah salah satu tokoh masyarakat Madinah, dan Zaid bin Arqam hanya seorang pemuda remaja. Karena itu ada sebagian sahabat Anshar yang lebih mempercayai ucapan tokoh munafik itu daripada Zaid. Ia berkata, “Boleh jadi Zaid bin Arqam hanya menduga-duga saja tentang apa yang dikatakan Abdullah bin Ubay.”

Setelah Abdullah bin Ubay mengetahui bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam telah mendengar ucapannya ini, segera saja ia menemui beliau dan bersumpah atas nama Allah, bahwa ia tidak mengatakan seperti apa yang disampaikan Zaid.

Zaid menjadi sedih dengan perkembangan yang terjadi, apa yang dilaporkannya kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam seolah-olah hanya dugaan dan rekaannya semata. Apalagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sepertinya bisa menerima sumpah yang diucapkan Abdullah bin Ubay. Bagaimanapun juga dirinya masih anak-anak, dan tidak memiliki ketenaran dan kekuasaan seperti halnya Abdullah bin Ubay.

Dalam beberapa hari berikutnya Zaid bin Arqam mengurung diri di rumah, tidak menghadiri majelis Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam seperti biasanya.

Pamannya sampai berkata, “Aku tidak bermaksud agar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membencimu dan tidak mempercayaimu lagi!”

BACA JUGA: Zaid bin Su`nah pada Nabi: Wahai Muhammad! Kenapa Kau Tidak Melunasi Hutangmu padaku?

Beberapa waktu kemudian, Allah SWT menurunkan Surah Al Munafiqun ayat 1, yang isinya mengabarkan kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang munafiq, khususnya Abdullah bin Ubay. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam mendatangi Zaid bin Arqam dan beliau membacakan wahyu yang baru beliau terima, “Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”

Kemudian beliau bersabda, “Wahai Zaid, Sesungguhnya Allah telah membenarkanmu!” []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline