Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sufi dan Buku

0

Seorang sufi pengelana, suatu hari mendapat sebuah buku dari temannya. Buku itu bicara tentang zuhud, hidup menjauhi dunia dan hanya semata-mata mengejar ridha dan rahmat Allah. Sufi itu terpesona dan tertarik membaca isi buku, dan itu mendorongnya ingin menjumpai penulisnya.

BACA JUGA: Tokoh Sufi yang Pertama Kali Mengemukakan Teori Kelepasan dan Kelanjutan

Maka, dengan bekal seadanya, dia pergi menemui si penulis buku itu. Setelah menempuh perjalan berhari-hari, sampailah dia di kota penulis buku zuhud itu. Dia bertanya kepada seseorang, di mana gerangan rumah si penulis buku. Rupanya semua orang di kota itu kenal dengan si penulis yang dicari sufi kita. Maka dengan mudah, sufi
kita ini mendapatkan alamatnya….

Sayang, ketika sampai di depan rumah si penulis buku, sufi kita kecewa sekali. Di berdiri di depan sebuah
rumah yang besar, mewah dan megah.

“Ternyata, hanya tulisannya saja yang bagus….” Gumam sufi kita dalam hati.

Penjaga di depan pintu rumah itu mempersilahkannya masuk dengan ramah. Tadinya sufi kita mau langsung pulang, tapi akhirnya dia mau juga masuk menemui si penulis. Dia disambut dengan penuh penghormatan oleh si penulis, dimuliakan dan dijamu dengan segala kemewahan.

Sufi kita makin kurang sreg. Dia memutuskan akan pulang saja, tapi si penulis menahannya. Meminta dia menginap barang semalam. Akhirnya dengan terpaksa sufi kita menginap di kamar yang luas dan mewah.

Keesokan harinya, setelah sarapan, sufi kita mohon diri akan melanjutkan perjalanan lagi. “Kalau begitu, saya ikut dengan Tuan.” Kata si penulis.

Sufi kita terkejut. Dia berusaha menolak, tapi si penulis memaksa ikut dengannya. “Tapi saya jalan kaki, karena saya tidak punya kendaraan.” Kata sufi kita.

“Baik, tidak apa-apa…. Jalan kaki kan menyehatkan.” Kata si penulis.

Akhirnya, jadilah mereka berangkat dengan berjalan kaki. Kirakira sudah menempuh perjalanan setengah hari, di suatu tempat sufi kita berhenti dan berkata, “Tampaknya saya harus kembali ke rumah
anda.”

“Lho, kenapa?” Tanya si penulis. “Tempat air saya ketinggalan di kamar.” Jawab sufi kita. “Bukankah kita bisa minum di sungai?” Tanya si penulis.

“Tidak bisa, nanti kita bisa mati kehausan kalau tidak bertemu sungai.” Jawab sufi kita. “Kalau begitu, kita beli saja nanti di pasar.”

Saran si penulis. “Tidak, saya harus kembali! Apa artinya perjalanan tanpa tempat air…. Itu barang berharga satu-satunya yang saya miliki.” Kata sufi kita.

“Baiklah kalau begitu…. Tuan, saya tinggalkan semua kemewahan, kekayaan, dan keluarga saya tanpa rasa khawatir sedikitpun, karena saya hanya mengharap ridha dan pertolongan Allah. Saya tidak pernah memberi tempat sedikitpun di hati saya bagi dunia.

Apa yang saya miliki sesungguhnya hanya titipan Allah yang harus saya jaga dan saya kembangkan. Dan saya tampakkan rasa syukur saya dengan apa yang Tuan lihat ada pada diri saya. Saya tidak pernah merasa kehilangan, karena saya memang tidak pernah merasa memiliki….

BACA JUGA: Mari Mengenal Shaahibu Sirri Rasufillaah

Semuanya bukan milik saya. Apakah pantas saya mengaku sebagai pemilik sedangkan saya hanya dititipkan? Tapi anda, Tuan…, anda begitu gelisah hanya gara-gara sebuah tempat air! Padahal Tuan hidup miskin. Kezuhudan macam apakah yang Tuan praktikan? Kalau begitu, kita berpisah sampai di sini saja…..”  []

Sumber: ALLAH SANG TABIB: Kesaksian Seorang Dokter Ahli Bedah/karya Dr. H. Briliantono

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline