Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sudah Berapa Banyak Makanan yang Menghalangi Qiamullail?

0

Kelezatan yang memenuhi jiwa ketika sedang melaksanakan shalat semacam ini dapat kita temukan dalam sebuah dialog yang terjadi antara Abdullah bin Masruq al-Qairawani, salah seorang ulama Fiqih, dengan seorang ahli ibadah (‘abid) yang selalu khusyu’ kepada Allah S’WT, yang bernama Abu Ja’far al-Qammudi.

Dialog itu terjadi ketika Abdullah bin Masruq berkunjung ke tempat Abu Ja’far yang sedang melaksanakan shalat lama sekali. Sehabis shalat pun ia masih berdzikir sampai lama. Abdullah bin Masruq hanya melihat saja.

BACA JUGA: Kisah Abdullah bin Abi Umayyah, Keutamaan Islam Menghapus Dosa-dosa Terdahulu

Setelah Abu Ja’far telah selesai melakukan shalat, Abdullah berkata kepadanya, “Hai Abu Jalar, dengan lebih sedikit kamu melakukan hal yang melelahkan dan memaksakan diri seperti ini, kamu pun masih bisa memperoleh maksud dan tujuanmu, insya Allah.”

Dijawab oleh Abu Ja’far, “Hai orang hina, kalau saja kamu dapat merasakan manis dan lezatnya ‘Allahu Akbar’, tentulah kamu tidak akan menghina kelelahan orang yang terus-menerus melakukannya.”

Orang-orang saleh dapat merasakan kelezatan bermunajat dan kebahagiaan, keridhaan, dan kenikmatan bertemu dengan Tuhannya ketika mereka sedang melaksanakan shalat. Prestasi semacam ini tentunya tidak akan dapat dicapai oleh orang-orang yang lebih suka berfoya-foya dan bergelimang dalam kemewahan dunia. Mereka ini lebih sering menghabiskan malam dengan kenikmatan-kenikmatan sesaat dan hanya sekedar melampiaskan nafsu belaka.

Mengenai hal ini, Abu Sulaiman ad-Darani berkata, “Orang yang lebih suka menghabiskan malam dengan bermunajat kepada Allah SWT akan merasakan kenikmatan yang lebih dibandingkan kenikmatan yang diperoleh orang lain karena urusan dunia. Seandainya saja tidak ada malam yang saya gunakan untuk bermunajat kepada Tu-hanku, pastilah saya tidak akan menyukai kekekalan di dunia ini (lebih baik mati).”

Al-Fudlail bin ‘Iyadh berkata, “Ketika malam tiba dan merasa tersiksa dengan kesunyian malam yang belangsung lama, maka saya lalu membuka Al-quran (dan membacanya) tanpa pernah puas menikmati bacaannya.”

Ada orang yang bertanya kepada ahli ibadah bernama Hamamah, salah seorang hamba Allah yang saleh dan terpilih pada masa Tabi’in, “Amal ibadah apa yang paling utama yang engkau harapkan (balasan)nya di sisi Tuhanmu?”

Ia menjawab, “Setiap datang waktu shalat, saya pasti sudah siap (untuk melaksanakanya) dan saya merasa rindu menunggu datangnya waktu shalat. Dan, setiap kali saya selesai melaksanakannya, saya langsung merasakan kembali kerinduan untuk kembali melaksanakannya. Seandainya saja Allah SWT tidak menurunkan (mewajibkan) shalat lima waktu itu terpisah-pisah waktunya, maka saya lebih suka untuk selalu bersujud dan ruku’ menyembah Allah SWT siang dan malam.”

Hasan al-Bashri mengatakan, “Seorang hamba pasti melakukan dosa, maka hal itu dapat mencegahnya melaksanakan qiyamullail (bangun di tengah malam untuk beribadah).”

BACA JUGA: Penyebab Malas Qiamulail menurut Rasulullah

Orang saleh yang lain menyebutkan, “Berapa banyak makanan yang dapat menghalangi qiyamullail. Berapa banyak lagi pandangan yang terlarang (memandang hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT seperti memandang aurat wanita bukan muhrim, melihat kemaksiatan, dan lain sebagainya -penj.) yang dapat menghalangi orang membaca Al-quran. Seorang hamba yang makan barang haram dan melakukan perbuatan buruk tidak berhak melaksanakan qiyamul-lail selama setahun.” []

Sumber: Shalat Orang-orang Saleh/Karya: Ahmad Mushthafa Ath-thahthawi/Penerbit: Republika/2005

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More