Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sucikan Aku Rasulullah..

0

Seorang pria datang kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dengan wajah tersipu merah. Hatinya pasrah. Mendekat pelan kepada beliau, lalu berbisik. “Sucikan aku, Rasulullah!”

“Celaka kau! Pergi …! Mintalah ampun kepada Allah dan bertobatlah!”

Belum jauh ia melangkah, datang orang kedua. Lalu orang ketiga. Dan, Nabi tetap bertindak seperti semula. Kemudian datang orang keempat. “Sucikan aku, Rasulullah!”

Kali ini Nabi bertanya. “Maksudmu?”

“Aku berzina.”

Sebuah pengakuan murni. Tapi, beliau ingin pria ini terbebas dari sanksi. Maka beliau berusaha mencari bukti, sekecil apa pun, untuk mengaburkan pengakuan itu.

“Hindari hukuman sebisa mungkin!”

Kepada kaum pria yang ada di sana belaiu bertanya.

“Kalian kenal dengan pria ini? Apakah ia ini sehat akal? Apakah ada yang layak tidak dipercaya dari orang ini?”

“Wahai Rasulullah, yang kami ketahui orang ini sehat akal dan baik di tengah-tengah kami.”

Beliau terus bertanya, “Mungkin ia mabuk hingga bicaranya ngawur. Apakah kalian tak mengendus bau minuman keras?”

Salah seorang berdiri, lalu mencium bau mulutnya. “Tidak, wahai Rasulullah!”

Meski sudah begitu, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam masih juga bersabda, “Mungkin kau mencium baunya?”

Sementara itu, si pria terus-menerus berkata. “Aku telah berzina … Aku telah berzina!”

Akhirnya, beliau menyuruh menggali lubang, dan ditunaikanlah hukum rajam kepada pria itu. Begitu selesai beliau berpidato.

“Istigfarlah kalian semua, mintakan ampun untuk Ma’iz ibn Malik—pria yang dirajam itu. Ia telah bertobat dengan suatu bentuk tobat, yang seandainya sekelompok umatku memintakan ampun untuknya, niscaya ia sudah tak membutuhkannya.”

Dua orang saling berbisik. “Lihat orang yang ditimbun tanah ini. Ia dirajam layaknya anjing.”

Nabi mendengar, tetapi diam. Setelah beranjak tak jauh, beliau lewat di dekat bangkai seekor keledai.

“Mana si Fulan dan si Fulan?”

“Kami, wahai Rasulullah!”

“Sini..! Turun dan makanlah bangkai keledai ini!”

Dua orang tadi kaget bukan kepalang. “Wahai Nabi Allah, semoga Allah mengampunimu, siapa yang sudi makan ini?”

Menjelaskan maksud sebenarnya, Nabi lalu bersabda kepada kedua pemuda itu. “Apa yang kaukatakan di depan saudaramu tadi jauh lebih busuk dibanding makan bangkai ini.”

Dengan menjelaskan maksud sebenarnya, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam lalu ber-sabda kepada kedua pemuda itu, “Apa yang kaukatakan di depan saudaramu tadi jauh lebih busuk dibanding makan bangkai ini. Demi Zat, yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sekarang ia berada di sungai surga, sedang berenang-renang di sana.” []

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline