Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Suaranya Bertambah Lantang kepada yang Melarang

0

Pada suatu hari Abu Dzar sedang duduk menyampaikan sebuah hadits, “Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara,

Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka..

“Disuruhnya aku melihat kepada orang yang di bawahku dan bukan kepada orang yang di atasku..

“Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain..

“Disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahmi..

“Disuruhnya aku mengatakan yang haq walaupun pahit..

“Disuruhnya aku agar dalam menjalankan Agama Allah, tidak takut celaan..

“Dan disuruhnya agar memperbanyak menyebut, ‘Laa haula walaa quwwata illaa billah’.”

Sungguh Abu Dzar hidup menjalani wasiat itu, dan ditempanya corak hidupnya sesuai dengan wasiat itu, hingga ia pun menjadi hati nurani masyarakat dari ummat dan bangsanya.

Iman Ali berkata, “Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan orang dalam menegakkan Agama Allah, kecuali Abu Dzar…!”

Ia membaktikan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta. Mengambil alih tanggung jawab untuk menyampaikan nasihat dan peringatan.

Mereka larang ia memberikan fatwa, tapi suaranya bertambah lantang kepada yang melarang, “Demi Tuhan yang nyawaku berada di tangan-Nya! Seandainya tuan-tuan menaruh pedang di atas pundakku, sedang menurut rasa hatiku masih ada kesempatan untuk menyampaikan ucapan Rasulullah yang kudengar daripadanya, pastilah akan kusampaikan juga sebelum tuan-tuan menebas batang leherku!” []

Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah/ Penulis: Khalid Muh Khalid/Penerbit: Diponegoro,2006

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More