Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Siapa yang Menjamin Usia Amirul Mukminin Sampai Waktu Dzuhur?

0

Dialah yang memulai menerapkan syariat Islam secara utuh. Pada masa pemerintahannya, hadis-hadis mulai dibukukan. Umar bin Abdul Aziz membersihkan kedua tangannya dari debu kuburan Khalifah sebelumnya, Sulaiman bin Abdul Malik. Tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh bumi di sekitarnya.

Ia berpaling seraya berkata, “Apa ini?”

Mereka berkata, “Inilah kendaraanmu, wahai Amirul Mukminin. Ini telah disiapkan untuk Anda kendarai.”

Umar melihatnya dengan sebelah mata, lalu berkata dengan suara gemetar dan terbata-bata karena kelelahan dan kurang tidur, “Apa hubungannya denganku, jauhkan semua itu dariku, mudah-mudahan Allah memberkati kalian. Bawa kemari keledaiku. Ia sudah cukup bagiku.”

Baru saja ia duduk di atas punggung keledainya, komandan pengawal datang berjalan di depannya, bersama sekelompok anak buahnya yang berbaris rapi di sekelilingnya. Di tangan mereka tergenggam tombak yang mengkilat.

Umar menoleh ke arah mereka dan berkata, “Aku tidak membutuhkan pengawalan kalian semua, aku hanyalah orang biasa dari kalangan kaum muslimin, aku berjalan sama seperti mereka.”

Selanjutnya Umar berjalan menuju masjid untuk shalat berjemaah bersama orang-orang. Selesai menunaikan shalat berjamaah ia berpidato di depan orang-orang itu, “Wahai manusia, sesungguhnya aku mendapatkan cobaan dengan diangkatnya aku sebagai Khalifah ini, yang tanpa diminta persetujuan terlebih dulu memintanya atau dimusyawarahkan terlebih dengan kaum muslimin. Sesungguhnya aku melepaskan baiat yang ada di pundak kalian untukku. Selanjutnya pilihlah dari kalangan kalian sendiri seorang khalifah yang kalian ridhai.”

Orang-orang yang hadir pun berteriak dengan satu suara, “Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin dan kami ridha terhadapmu. Aturlah urusan kami dengan karunia dan berkah Allah SWT.”

Ketika suara-suara itu telah hening dan tenang, Umar memuji Allah SWT dan bershalawat kepada junjungan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia mulai mengajak orang-orang supaya bertaqwa, mengajak mereka supaya berzuhud dari kehidupan dunia, mendorong mereka kepada kehidupan akhirat dan mengingatkan mereka kepada kematian.

“Wahai manusia, barangsiapa yang taat kepada Allah, dia wajib ditaati. Barangsiapa yang bermaksiat kepada Allah, tidak seorangpun yang boleh taat kepadanya. Wahai manusia, taatlah kepadaku, selama aku mentaati Allah dalam menangani urusan kalian. Jika aku bermaksiat kepada Allah, kalian tidak wajib taat kepadaku.”

Setelah selesai shalat berjamaah dan berpidato, dia pulang menuju kerumahnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Ia benar-benar ingin istirahat barang sejenak, setelah kelelahan yang amat sangat, sejak wafatnya Khalifah Sulaiman.

Baru saja sang Khalifah yang baru ini meletakkan punggungnya di tempat tidur, putranya, yang bernama Abdul Malik, yang baru berusia 17 tahun, datang dan berkata, “Apa yang ingin ayah lakukan?”

Dia menjawab, “Wahai anakku, aku ingin istirahat sejenak, karena tenagaku sudah tak tersisa lagi hari ini.”

“Apakah Ayah masih ingin tidur sejenak sebelum mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi?” katanya putranya lagi.

“Wahai anakku, sesungguhnya aku tadi malam begadang (tidak tidur) karena mengurus jenazah pamanmu, Sulaiman. Nanti jika sudah tiba waktu dhuhur, aku shalat berjemaah bersama orang-orang dan aku akan mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi tersebut, Insya’allah.”

Sang putra berkata lagi, “Siapa yang menjaminmu wahai Amirul Mukminin kalau usiamu hanya sampai waktu dzuhur?”

Ucapan putranya ini menyentak dan membakar semangat Umar dan melenyapkan seketika rasa kantuk dan kelelahan yang dirasakannya. Kekuatan dan kesegaran badannya yang sebelumnya dirasa sangat lelah, bangkit kembali. Ia pun berkata kepada putranya, “Mendekatlah wahai putraku.”

Sang putra mendekat dan Umar pun langsung memeluk dan mencium keningnya seraya berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah melahirkan dari keturunanku orang yang menolongku dalam menjalankan agama.”

Umar berdiri dan menyuruh putranya agar mengumumkan kepada orang-orang, “Barangsiapa yang merasa teraniaya, maka hendaklah mereka mengajukan perkatanya.” []

Baca juga: Istri Umar bin Abdul Aziz Bercerita tentang Suaminya

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline