Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Siapa Ibu dari Anak yang Hendak Disembelih Itu?

Di sana, di padang pasir Makkah yang tandus juga gersang. Yang mana tiada tumbuhan dan air, apalagi teman untuk diajak bicara. Suaminya pergi meninggalkan dia bersama bayinya. Sang suami lantas berjalan pulang sesudah meninggalkan kurma dan air untuk mereka.

BACA JUGA: Janji Allah kepada Nabi Ibrahim

“Wahai Ibrahim! Ke mana engkau hendak pergi. Mengapa engkau tinggalkan kami di lembah gersang ini, lembah yang tak berpenghuni dan tak ada apa pun ini?” Teriak istrinya.

Suaminya enggan menoleh. Hingga istrinya bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkan kamu untuk melakukan ini semua?”

“Iya.” Jawab suaminya, singkat.

Sang istri yang mana beriman kepada Allah. Yakin terhadap kebenaran janji Allah. Tanpa ragu dan bimbang ia berkata, “Kalau begitu, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Seiring waktu, air dan perbekalan habis. Bayi itu mengerang kelaparan dan kehausan, menangis keras. Begitu memilukan bagi hati seorang ibu yang penyayang. Sang ibu pun bergegas belari antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, untuk memeriksa apakah terdapat orang yang dapat menyelamatkan mereka, atau barangkali menemukan air dan makanan. Hingga rasa putus asa hampir saja menyambanginya tatkala yang dilakukannya tersebut tak berarti apa-apa.

BACA JUGA: Air Zamzam Mengalir di Kaki Ismail

Read More

Tsauban: Bagaimana dengan Nasibku Kelak di Akhirat?

Allah mengutus Jibril as. guna menghentakkan bumi dengan sayapnya, lantas keluarlah air di dekat si bayi yang menangis itu. Sang ibu dengan penuh syukur berlarian menghampiri. Dia berkata kepada air yang memancar, “Zammi, zammi,” jadilah mata air tesebut dinamai Zamzam.

Dialah Hajar, ibu Ismail dan istri Ibrahim Khailullah. Dalam sejarah, dia dikenal sebagai ibu bangsa Arab Adnani. Raja Mesir menghadiahkan Hajar kepada ibu Sarah, istri pertama Ibrahim.

Sekalipun Ibrahim as. menikahi Hajar atas permintaan istri pertamanya. Beberapa waktu berselang, hal itu menimbulkan kecemburuan hebat. Hingga Ibrahim as. dengan titah Allah, meninggalkan Hajar dan Ismail di padang pasir yang tandus.

Hari demi hari dirasa berjalan lambat dan berat. Hingga datanglah beberapa orang dari kabilah Jurhum. Mereka ingin menetap, lantaran melihat ada sumber air. Hajar menerima dengan baik. Dan dari merekalah anak yang dia asuh hingga tumbuh menjadi remaja, belajar bahasa Arab.

BACA JUGA: Struktur kehidupan sosial masyarakat Arab Jahiliyah

Inilah Hajar, ibu dari ananda yang akan disembelih sekaligus ibu bangsa Arab. Dia telah pergi, meninggalkan sebuah keteladanan tertinggi sebagai istri yang taat, ibu yang penyayang, dan mukminah kokoh imannya.

Oleh: Nida Nur Fadillah

Sumber: Keistimewaan 26 Muslimah Pilihan/Karya: Ali bin Nayif asy-Syuhud/Penerbit: Ar Rjial/2013

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More