Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Siapa di Antara Kalian yang Senang Allah Berpaling darinya?

0

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam sejak bermukim di Kota Madinah, sering berjalan-jalan di sekitar Kota suci itu sambil memeriksa kondisi masjid-masjid yang ada di berbagai penjuru kota itu. Masjid-masjid tersebut masih sederhana, dibangun dari batu batadengan tiang-tiangnya dari pohon kurma serta atapnya dari daun-daun kurma.

Meski masjid-masjid itu sederhana, beliau selalu berupaya menekankan perlunya menjaga kebersihan. Suatu saat, ketika berada di dekat dinding kiblat sebuah masjid, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melihat dahak di dinding itu. Raut wajah beliau pun segera berubah. Beliau benar-benar tidak senang dan jengkel melihat dahak yang mengotori dinding kiblat tersebut.

Kemudian, ketika waktu shalat tiba, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun melaksanakan shalat berjamaah bersama kaum Muslim yang hadir. Selepas shalat, Nabi pun berdiri dan berkata kepada orang-orang yang hadir, “Siapa di antara kalian yang senang Allah berpaling darinya?”

Hadirin tidak ada yang menjawab. Mereka tak tahu harus menjawab apa dan mengapa beliau bertanya demikian.

“Siapa di antara kalian yang senang Allah berpaling darinya?’ tanya beliau agak gusar.

Hadirin tetap tidak ada yang menjawab. Mereka tetap tidak tahu harus menjawab apa dan mengapa beliau bertanya demikian.

“Siapa di antara kalian yang senang Allah berpaling darinya?’ tanya beliau semakin gusar.

“Tak seorang pun di antara kami yang senang, wahai Rasul,” jawab mereka pelan dan penuh tandatanya.

“Wahai para sahabatku, sesungguhnya seseorang yang sedang berdiri dalam shalat itu sedang bermunajat kepada Tuhannya, dan Tuhan berada di antara orang yang sedang shalat dan kiblat (di depan orang dishalat). Karena itu, kita tidak boleh meludah dan berdahak ke arah kiblat. Jika terpaksa meludah, hendaknya dia meludah ke arah kiri atau ke bawah telapak kaki (kala itu lantai masjid masih berupa tanah biasa) dan jangan meludah ke kanan. Atau, jika terpaksa meludah, hendaknya dia meludah sebagai berikut,” kata beliau menjelaskan.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian memperagakan dengan memegang ujung pakaiannya.

Kemudian, beliau meludah di ujung pakaian lalu melipatnya. Sejenak kemudian beliau berkata, “Carikan aku wewangian!”

Seorang anak muda pun segera mengambil wewangian dan kemudian menyerahkannya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau kemudian memercikkan wewangian itu pada bekas dahak tersebut. []

Sumber: Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah: 1000 Kisah Penuntun Shalat, Puasa, Zakat dan Haji/Penulis: Ahmad Rofia Usmani/Penerbit:Mizan,2005

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline