Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Si Putih Keriting Pemimpin Bani Salamah (Bagian 1)

Amr ibnul Jamuh telah menyerahkan hati dan hidupnya kepada Allah Rabbul-Alamin. Dan walaupun dari semula ia telah berbaiat pemurah dan dermawan, tetapi Islam telah melipatgandakan kedermawanannya ini, hingga seluruh harta kekayaannya di serahkan untuk agama dan kawan-kawan seperjuangannya.

Pernah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menanyakan kepada segolongan Bani Salamah yaitu suku Amr ibnul Jamuh, katanya, “Siapakah yang menjadi pemimpin kalian, hai Bani Salamah?”

BACA JUGA: Panglima Mulia yang Menyembuhkan Pemimpin Musuh

“Al-Jaddu bin Qeis, hanya sayang ia kikir,” Ujar mereka.

Maka sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pula, “Apalagi penyakit yang lebih parah dari kikir? Kalau begitu sekarang pemimpin kalian ialah si Putih Keriting, Amr ibnul Jamuh!”

Demikian kesaksian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan penghormatan besar bagi Amr ibnul Jamuh. Mengenai kedermawanan Amr Ibnu Jamuh, seorang penyair Anshar pernah berpantun.

“Amr ibnul Jamuh membiarkan kedermawanannya merajalela, dan memang wajar, bila ia dibiarkan berkuasa. Jika datang permintaan, dilepas kendali hartanya. Silahkan ambil ujarnya, karena esok ia akan kembali berlipatganda!”

Dan sebagaimana ia dermawan membaktikan hartanya di jalan Allah, maka Amr ibnul Jamuh tak ingin sifat pemurahnya akan kurang dalam menyerahkan jiwa raganya.

Tetapi bagaimana caranya?

BACA JUGA: Sedekahnya si Burung Surga

Ia mempunyai empat putra, semuanya beragama Islam dan semuanya ksatria bagaikan singa dan ikut bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap peperangan. Namun dirinya, pemilik kaki pincang tak bisa hanya berdiam diri saja.

Amr tak mau kalah dari ke empat putranya, ia telah menyiapakn peralatannya untuk turut dalam perang badar. Meski ke empat putranya itu memohon kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam agar membujuk ayahnya untuk mengurungkan niatnya ingin ikut serta dalam peperangan.

Hingga akhirnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan kepada Amr, bahwa Islam membebaskan dirinya dari kewajiban perang, dengan alasan ketidakmampuan disebabkan cacad kakinya yang berat itu.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Amr ibnul Jamuh tetap mendesak dan meminta izin kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam untuk ikut berperang, namun Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam terpaksa mengeluarkan perintah agar ia tetap tinggal di Madinah.

Tetapi perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam saat itu tak membuatnya berkecil hati untuk kembali memohon izin ikut serta dalam perang Uhud, katanya, “Ya Rasulullah, putra-putraku bermaksud hendak menghalangiku pergi bertempur bersama anda, Demi Allah aku amat berharap kiranya dengan kepincanganku ini aku dapat merebut surga.”

BACA JUGA: Bukankah Utsman bin Affan Tidak Ikut Perang Badar dan Perang Uhud?

Karena permintaan yang amat sangat, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam pun memberi izin untuk ikut serta. Maka selepas itu, diambilah senjatanya dengan hati yang diliputi oleh rasa puas dan gembira ia berjalan berjingkat-jingkat.

Dan dengan rasa iba ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, berilah kesempatan aku untuk menemui syahid, dan janganlah aku dikembalikan kepada keluargaku.”

Sumber: Karakteristik Perihidup Enampuluh Sahabat Rasulullah/Karya: Khalid Muh Khalid/Penerbit: Cv Penerbit Diponegoro Bandung/2006

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline