Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Si Penyelamat Sang Dermawan dari Pahitnya Hari-hari (Bagian 2 Habis)

Khuzaimah adalah seorang yang terkenal dengan kedermawanannya. Ia selalu berbuat kcbaikan kepada para sahabatnya, bahkan kepada orang yang tak dikenalnya sekalipun. Setiap orang yang datang meminta bantuan, pasti akan ditolongnya, berapa pun harta yang harus ia keluarkan.

Tak lama berselang, masa jabatan Ukrimah sebagai gubernur berakhir. Karena melihat kedermawanan dan kebaikan budi Khuzaimah, sang Khalifah mengangkat Khuzaimah menjadi gubernur baru.

“Wahai Khuzaimah, mulai hari ini aku mengangkatmu sebagai gubernur menggantikan Ukrimah. Temuilah Ukrimah sekarang juga, dan langsung kau lakukan audit keuangan kaum muslimin yang ia tangani. Periksa dengan baik sirkulasi keuangan di masanya, ke mana dan untuk tujuan apa ia mengeluarkan uang tersebut,” jelas sang Khalifah.

Setelah pertemuan itu, Khuzaimah pun pulang dengan membawa misi baru. Sebuah amanah sangat besar yang harus ia pikul dan pertanggungjawabkan di dunia dan akhirat kelak. Setelah sampai di daerahnya, Khuzaimah pun secara resmi menjadi kepala wilayah tersebut.

Ketika Ukrimah mendengar bahwa gubernur baru yang akan menggantikannya adalah Khuzaimah, hatinya diselimuti kebahagiaan tiada terkata. Sebelum Khuzaimah datang menemuinya, Ukrimah mengumpulkan semua anggota keluarganya untuk menyambut kedatangan Khuzaimah dengan penuh kegembiraan. Setelah mempersiapkan berbagai acara penyambutan, beberapa saat kemudian rombongan Khuzaimah pun tiba dan langsung dibawa menuju rumah dinas.

Setelah melakukan serah terima jabatan, proses pengauditan terhadap keuangan gubernur lama pun segera dilakukan. Proses pengauditan dilakukan oleh ahli-ahli kettangan di masa itu dengan dipimpin langsung oleh gubernur baru dan para stafnya.

Setelah pengauditan hampir berakhir, Khuzaimah mcnemukan kejanggalan. Ia mendapatkan bukti adanya sejumlah uang dengan jumlah yang sangat besar telah dikeluarkan oleh Ukrimah dengan status pinjaman.

Namun, sampai masa jabatannya berakhir Ukrimah belum juga bisa membayar pinjaman yang ia lakukan pada uang dari Baitul Muslimin tersebut.

Bahkan, Ukrimah dengan jujur mengatakan bahwa ia tidak mampu membayar utangnya tersebut. Atas nama keadilan dan demi menjaga amanah yang telah diberikan kepadanya, Khuzaimah akhirnya menangkap Ukrimah dengan dakwaan telah menggunakan harta kaum muslimin untuk kepentingan pribadi. Dengan penangkapan itu, Ukrimah pun akhirnya dijebloskan ke dalam penjara. Ia baru akan dibebaskan apabila telah mampu melunasi utangnya.

Namun demikian, Ukrimah tetap diam. Demi menjaga niamya untuk memuliakan dan membantu memperbaiki kehidupan sang dermawan ketika sedang susah, Ukrimah menerima hukuman tcrscbut dcngan ikhlas dan lapang dada.

Setelah berada di dalam penjara pun Ukrimah tetap merahasiakan tujuan pengeluaran uang tersebut. Istri Ukrimah yang mengetahui kejadian yang sebenarnya sangat terpukul ketika mengetahui bahwa suaminya dipcnjara karcna masalah itu. Namun, ia tclah berjanji pada suaminya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun ke mana uang itu ditasarufkad.

Hari pun berlalu. Ukrimah menjalani hari-harinya di dalam penjara dengan penuh keikhlasan, walaupun de-ngan kondisi yang sangat menyedihkan. Di dalam hatinya ia berguman, andai memang aku keliru melakukan hal itu ya Allah, biarlah penjara dunia ini yang pertama kali memberikan hukuman kepadaku. Dan hamba berharap semoga kelak dihadapan-Mu, Engkau sudi mengampuni dosa-dosa hamba karena kelalaian hamba-Mu yang bodoh lagi hina ini. Batinnya setiap kali merenung dan berdoa. Waktu terus berlalu. Kehidupan keluarga Ukrimah kian memburuk.

Hari-hari mereka dipenuhi dengan kesedihan. Istri dan anak-anak Ukrimah benar-benar menderita dengan keadaan ayah mereka yang meringkuk dalam penjara. Tak terhitung sudah percikan buliran air mata istri Ukrimah dan anak-anaknya yang menetes. Setiap kali kesedihan itu datang, saat itu pula istri Ukrimah berniat untuk menjelaskan kenyataan yang sebenarnya terjadi kepada Khuzaimah.

Namun, karena didorong oleh rasa hormatnya yang dalam terhadap suaminya tercinta, ia berusaha untuk sabar dan menyimpan rahasia itu. Kesabaran pada diri sescorang ada batasnya. Demikian halnya dengan istri Ukrimah. Ia sudah tidak kuat lagi menanggung malu dan penderitaan batin yang selama ini ia rasakan.

Akhrinya, ia memanggil pelayannya dan menyuruhnya untuk menemui gubernur Khuzaimah.

“Pergilah engkau ke rumah dinas gubernur dan temui gubernur Khuzaimah. Katakan kepadanya bahwa ada hal penting yang harus ia ketahui. Namun, jangan ada seorang pun selain gubernur yang boleh mengetahui masalah ini. Jika kau rasa keadaan telah aman dan semua orang yang ada di dalam ruangannya sudah keluar.”

“Katakan kepadanya kalimat ‘Seharusnya balasan yang diterima `Si penyelamat sang dermawan dari pahitnya hari-hari’ bukanlah seperti yang dialaminya kini, meringkuk di dalam penjara,” Sambungnya.

Pesan istri Ukrimah kepada pelayannya. Setelah menerima perintah tersebut, berangkatlah sang pelayan ke rumah dinas Khuzaimah tanpa memahami apa maksud dari perkataan sang majikan. Sesampainya di rumah dinas gubernur, ia mengutarakan niatnya kepada salah seorang staf Khuzaimah yang sedang bertugas.

Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, sang pelayan diantar untuk bertemu langsung dengan Khuzaimah. Di hadapan Khuzaimah, sang pelayan menguta-rakan semua perkataan majikannya, tanpa mengurangi atau menambahkan satu kata pun.

Mendengar penuturan pelayan tersebut, Khuzaimah tersentak kaget. la sontak terbangun dari duduknya.

Dengan suara setengah berteriak dan raut muka pucat, ia berkata, “Apakah yang engkau maksud adalah Ukrimah? Oh, sungguh menyesalnya aku.”

Khuzaimah pun langsung berdiri dari singgasananya dan memerintahkan semua jajaran pejabat teras kegubernuran untuk pergi bersamanya menemui Ukrimah di dalam penjara. Begitu Khuzaimah dan rombongannya memasuki ruang tahanan, ia mclihat keadaan Ukrimah yang sangat menyedihkan. Dengan rantai yang masih membelenggu kakinya, wajah Ukrimah tampak pucat dan tidak sehat.

Khuzaimah mencium kening Ukrimah dan memohon maaf atas kesalahan yang telah ia lakukan. Rasa penyesalan mendalam karena telah memenjarakan orang yang sangat mulia membelenggu dirinya. Air mata Khuzaimah mengalir deras bak aliran sungai.

Ukrimah yang masih tidak memahami tangisan dan keputusan Khuzaimah untuk membebaskannya, mengangkat kepalanya pelan, lalu berkata, “Sebenar-nya apa yang telah membuatmu berbuat seperti ini, wahai Khuzaimah? Apa yang mendorongmu untuk membebaskanku?”

“Kedermawananmu, kebaikan sifatmu, dan buruknya perbuatanku terhadapmu. Sungguh aku telah membalas air susu dengan air tuba, tetapi semua itu karena aku tidak mengetahuinya.”

Ukrimah menjawab lirih, “Semoga Allah mengampunimu.”

Khuzaimah kemudian meminta kepada sipir penjara untuk melepaskan rantai yang membelenggu Ukrimah, dan memerintahkan sipir itu agar membelenggukan rantai tersebut ke kakinya. Ia ingin menjadi pengganti Ukrimah terbelenggu di dalam penjara. Ia ingin menebus kesalahannya. Ukrimah merasa heran mendengar permintaan dari Khuzaimah.

“Sebenarnya apa maksud dari semua perbuatanmu ini? Kenapa kau melakukan itu?”

“Aku ingin merasakan apa yang tclah engkau derita,” ucap Khuzaimah.

Mendengar jawaban jujur itu, Ukrimah melarangnya. Ia meminta Khuzaimah untuk segera keluar bersamanya. Akhirnya Khuzaimah mematuhinya. Lalu, Khuzaimah membawa Ukrimah ke rumah dinas. Setelah mengadakan jamuan, Ukrimah meminta izin untuk pulang dan mene-mui keluarganya. Tetapi Khuzaimah melarangnya.

Waktu pun berjalan. Ukrimah telah pulih seperti sedia kala.

Ketika mclihat kondisinya telah mcmbaik, Ukrimah meminta izin kepada Khuzaimah untuk segera pulang menemui keluarganya. Khuzaimah memeluk Ukrimah dengan erat. Tak henti-hentinya dari mulutnya terucap beribu-ribu permintaan maaf.

Suasana kepergian Ukrimah meninggalkan rumah dinas gubernur makin haru ketika Ukrimah balas meminta maaf atas segala perbuatannya.

Kedua hamba Allah yang mulia itu akhirnya sama-sama meneteskan air mata bahagia. Setelah berpamitan, Ukrimah meninggalkan Khuzaimah dengan sebaris rasa bangga. Bangga karena kemuliaan dan akhlaknya yang mulia. []

Sumber: Kiat – Kiat Meninggalkan Maksiat/Penulis: Mid-Hat Ali Ahmad Warbi/Penerbit: Tiga Serangkai,2008

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More