Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Si Alim dan Iblis Penjaga Pohon (Bagian 1)

0 24

Dikisahkan suami istri hidup tenteram. Meskipunhidup miskin, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka sangat tekun.

Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama istrinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup.

Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan ia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris.

BACA JUGA: Iblis: Assalamu’alaika Ya Musa

“Ini syirik,” fikir lelaki yang alim tadi.

“Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak boleh dibiarkan menyembah serta meminta selain kepada Allah.” Maka pulanglah dia terburu-buru.

Istrinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas lelaki alim tadi bergegas keluar.

Istrinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu.

Sebelum sampai di tempat pohon itu, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis yang menyerupai sebagai manusia.

“Hai, mau ke mana kamu?” tanya si iblis.

Orang alim tersebut menjawab,“Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu.”

“Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja.”

“Tidak boleh, kemungkaran mesti diberantas,” jawab si alim bersikap tegas.

“Berhenti, jangan teruskan!” bentak iblis marah.

“Akan saya teruskan!”

Karena masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah boleh dibinasakan. Namun ternyata iblis menyerah kalah, meminta-minta ampun. Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata, “Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani lagi mengganggu tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, apabila Tuan selesai menunaikan sembahyang Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan uang emas empat dinar. Pulang saja, jangan teruskan niat Tuan itu dulu.”

BACA JUGA: Iblis Melintasi Tempat Ia Bersujud dengan Menyerupai Seekor Ular

Mendengar janji iblis dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringatkan istrinya yang hidup berkekurangan. Ia teringat akan tuntutan istrinya setiap hari. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah bisa menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan istrinya itu maka pulanglah dia. Patah niatnya yang semula hendak memberantas kemungkaran.

Demikianlah, semenjak pagi itu istrinya tidak pernah marah lagi. []

Sumber: Kisah Teladan Islami/ Turi Putih/ 2017

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline