Picture: PSD

Setan Mengalir dalam Diri Anak Adam seperti Mengalirnya Darah

Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyay menuturkan, “Saat Rasulullah sedang beri’tikaf di masjid, aku mengunjunginya di malam hari. Aku berdiam diri sejenak bersama Rasulullah lalu aku berbicara dengannya. Aku pun berdiri karena aku hendak pulang ke rumahku. Namun, Rasulullah melarangku pulang sendirian di malam hari. Beliau pun berdiri kemudian mengantarkanku pulang.” Inilah yang harus dilakukan seorang muslim. Gelapnya malam telah menarik minat orang-orang jahat dan pengumbar syahwat untuk melakukan aksi kejahatan.

Tak lama kemudian, lewatlah dua orang Anshar, yaitu Usaid bin Hudaid dan Ibad bin Bisyr. Ketika mereka melihat Rasulullah dan Shafiyyah, keduanya mempercepat langkah kakinya. Rasulullah yang melihat keduanya lantas memanggil, “Jalanlah pelan-pelan. Di sini taka ada perkara yang kalian benci. Aku berdiri di sini bersama ibunda kalian, Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab.

Keduanya berkata, “Subhanallah tak seorang pun berprasangka kepadamu kecuali yang baik, wahai Rasulullah. Kami berlindung kepada Allah dari prasangka buruk kami kepada Rasulullah.”

Rasulullah kemudian berkata, “Semoga Allah memberkahi kalian berdua. Aku melihat kalian berdua termasuk orang-orang shaleh. Akan tetapi setan itu mengalir dalam diri anak Adam seperti mengalirnya darah. Aku khawatir setan akan melemparkan kejelekan pada hati kalian berdua.”

Mereka lalu menjawab, “Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih agung daripada hal tersebut.” []

 

Sumber: Dr. Utsman Qadri Mukanisi. 2017. Cerita-Cerita Memikat dari Sahabat. Jakarta: Qalam.

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline