Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sesuap Makanan, Menjadi Harapan Berjumpa dengan 124.000 Nabi?

Junaid AI-Bagdadi adalah seorang guru tarekat (mursyra). Ketika dia wafat, kedudukannya digantikan oleh Junaid AI-Bagdadi seorang zahid yang suka berpuasa di siang hari dan beribadah di malam hari. Suatu hari berziarah ke makam Qibtiyah.

Ketika dia duduk di salah satu sudut makam, masuklah seorang pemuda yang tak mengenakan curup kepala, tidak memakai alas kaki, rambut terurai, dan wajahnya pucat. Setelah mengambil air wudu, pemuda itu melaksanakan salat dua rakaat, dan kemudian beristirahat hingga waktu magrib tiba. Pemuda itu ikut salat magrib berjamaah bersama Al-Hariri, kemudian beristirahat lagi.

Seusai salat Isya, Khalifah Bagdad memanggil kaum sufi untuk mengisi ceramah agama. Ketika hendak berangkat, Al-Hariri mengajak pemuda itu pergi bersamanya.

“Maukah kamu pergi bersama saya untuk memenuhi panggilan khalifah?” ajaknya.

Pemuda itu bukannya mau memenuhi ajakan Al-Hariri, ia malah sebaliknya meminta sesuap makanan pada sang pemimpin tarekat.

“Saya tidak membutuhkan itu. Yang saya butuhkan adalah sesuap makanan dari Anda,” jawabnya.

Al-Hadri tidak ambil pusing dengan keinginan pemuda itu. Tanpa menghiraukan permintaan pemuda Al-Hariri langsung berangkat menuju pengajian yang diadakan khalifah.

Sepulang dari majelis pengajian khalifah, Al-Hariri kembali ke sudut makam seperti semula. Ketika itu dilihatnya pemuda aneh tersebut masih berada di situ dalam keadaan tertidur. Karena merasa kepayahan, AI-Hariri merebahkan tubuhnya di lantai dan tak lama kemudian tertidur.

Read More

Ditawarkannya Seorang Gadis untuk Nabi Musa

Dalam tidurnya, Al-Hariri bermimpi ketemu dengan Rasulullah Shalallahu alahi wassalam bersama dua orang tua yang bercahaya dan di belakangnya terdapat rombongan besar orang dengan wajah bersinar terang. Dalam mimpinya itu, Al-Hariri melihat Rasulullah SAW didampingi oleh Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Musa a.s, sedangkan di belakangnya barisan para nabi yang berjumlah 124.000 orang. Al-Hariri berusaha untuk menghampiri Rasulullah Shalallahu alahi wassalam dan ingin berjabat tangan dengan panutannya itu.

Namun, ketika Al-Hariri mendekat, Nabi memalingkan wajahnya. Kejadian itu berulang hingga tiga kali. Ketika Al-Hariri menanyakan hal itu, beliau menjawab, “Kamu telah berlaku kikir! Ketika ada seorang fakir yang menginginkan makanan darimu, kamu biarkan dia kelaparan sepanjang malam.”

Seketika itu Al-Hariri terbangun dengan diliputi ketakutan dan tubuh bergetar. Al-Hariri segera mencari pemuda itu. Ternyata, pemuda itu sudah tidak berada di tempatnya. Akhirnya, Al-Hariri keluar dari makam dan mencari pemuda itu di sekitar areal pemakaman.

Ketika melihat pemuda itu, Al-Hariri memanggilnya, “Pemuda! Demi Allah yang telah menciptakan dirimu, tunggulah sebentar.”

Merasa ada yang memanggil, pemuda itu pun menoleh ke arah AI-Hariri. Al-Hariri terlihat berjalan menuju ke arah pemuda itu. Ketika sudah dekat, menyerahkan bungkusan seraya mengatakan, “Ini makanan untukmu.”

Pemuda itu bukannya mau menerima pemberian makanan dari tetapi malah mencibir. “Syekh! Siapa yang menginginkan sesuap makanan darimu? Mana bisa berjumpa dengan 124.000 nabi yang akan menjadi penolongmu hanya dengan sesuap makanan?” cibirnya.

Tak seberapa lama kemudian, pemuda itu menghilang dari pandangan. Al-Hariri hanya bisa tertegun. Dia menyesal telah mengabaikan pemuda yang memiliki kedudukan istimewa di antara para nabi itu. []

Sumber: Di Istana Cinta Rasulullah penulis/Penulis: Mokh.Syaiful Bakhri/ Penerbit: Erlangga,2008

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More