Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Seperti Malaikat yang Hidup di Lingkungan Malaikat

0 33

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathtab, Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami agama. Di sanalah kemudian ia melabuhkan tirainya. Setelah penduduk mengenalnya, mereka berdatangan mengambil berkah dan meniru keteladanannya dalam ketakwaan.

Hasan Basri dan Ibnu Sirin berkata, “Tidak seorang pun di antara sahabat Rasulullah yang datang ke Bashrah yang lebih utama dari Imran bin Hushain.”

Dalam beribadah dan hubungannya kepada Allah, Imran bin Hushain tidak sudi di ganggu oleh sesuatu pun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah ia tenggelam dalam ibadah. Dan, seakan-akan ia bukan lagi penduduk bumi. Sungguh seolah-olah ia adalah malaikat yang hidup di lingkungan malaikat, bergaul, berbicara, dan bertemu muka, dan bersalaman dengannya.

Tatkala terjadi pertentangan sengit antara kaum muslimin, yaitu antara kelompok Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, selain tidak memihak, Imran juga menyeru kepada kaum muslimin untuk tidak terlibat dalam peperangan itu, dan agar membela dan mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya.

Ia berkata, “Aku lebih suka menjadi penggembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal dunia daripada harus melepas anak panah ke salah satu pihak, baik meleset ataupun tidak.”

Dia memberikan amanat kepada umat Islam yang ditemuinya, “Tetaplah tinggal di masjidmu, dan jika ada yang memasuki masjidmu, tinggallah di rumahmu. Dan, jika ada lagi yang hendak masuk merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah ia.”

Keimanan Imran bin Hushain membuahkan hasil yang gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu mengaggunya selama 30 tahun, tidak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan, tidak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik pada waktu berdiri, duduk, maupun berbaring. Ketika para sahabatnya dan orang-orang datang menjenguknya dan menghibur hatinya atas sakit yang dideritanya itu, ia tersenyum sambil berujar, “Sesungguhnya barang yang paling aku sukai adalah yang paling disukai Allah.”

Dan sewaktu meninggal, ia berwasiat kepada kerabat dan sahabatnya, “Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan.” []

Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah/ Penulis: Khalid Muh. Khalid/ Penerbit: cv. Diponegoro Bandung, 1998

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline