Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Selamat Jalan Ahli Fikih Madinah

0

Pada tahun meninggalnya Kharijah bin Zaid bin Tsabit, dia berkata, “Aku bermimpi seolah-olah aku tengah membangun tujuh puluh tangga, lalu setelah aku selesai membangunnya tangga itu runtuh, dan pada tahun ini aku genap berusia tujuh puluh tahun.”

Mimpi itu telah menjadi kenyataan, ahli fikih Kharijah bin Zaid ini meninggal dunia setelah dia membangun tujuh puluh tangga, yakni tujuh puluh tahun kehidupannya. Dia telah belajar dan berhasil memahami ilmu, fikih, juga agama dengan sangat baik. Dia telah memeluk agama Islam dan menjalankan keislamannya dengan baik.

Dia pun telah menjadi seorang ahli fikih yang pendapatnya bermanfaat bagi seluruh kaum muslimin. Penduduk kota Madinah semuanya datang mengerumuni jenazah Kharijah dibawah pimpinan gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm, yang menjadi imam ketika menyalatkannya.

Peristiwa itu terjadi pada tahun sembilan puluh sembilan Hijriyah. Salah seorang yang ikut bertakziah mengatakan, “Aku menyaksikan hari di mana Kharijah bin Zaid bin Tsabit wafat, dan aku melihat air memerciki kuburannya.”

Dia wafat pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Pada hari itu, Raja’ bin Haiwah sedang berada di majelis Umar bin Abdul Aziz, lalu dia berkata, “Wahai Amirul Mukminin, baru saja datang seorang pembawa berita dan dia memberitahukan bahwa Kharijah bin Zaid telah meninggal dunia.”

Maka dalam keadaan kebingungan Umar bin Abdul Aziz berkata, “Inna lillahi wa inn’a ilaihi raji’un.”

Lalu dia menepukkan satu tangannya ke tangan yang lainnya seraya berkata, “Demi Allah, (kematiannya ini menyebabkan) satu rekahan dalam Islam.”

Ini adalah sebuah kerugian besar, karena fikih Kharijah bin Zaid telah terhenti. Akan tetapi yang menjadi pelipur lara bagi orang-orang yang mencintainya adalah keberadaannya di tempat yang baik di sisi Sang Yang Maha berkuasa, di antara taman-taman surga dan sungai-sungai karena dia termasuk golongan orang-orang yang bertakwa.

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada di taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.” (Al-Qamar: 54-55) []

Sumber: Kisah Para Tabi’in/ Penulis: Syaikh Abdul Mun’im Al-Hasyimi/ Penerbit: Umul Qura

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline