Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sebaik-baik Cinta Adalah Cinta yang Mampu Menggiring Menuju Kebaikan

0 3

Dari Rajâ` bin ‘Umar an-Nakha’iy, dia berkata, “Di Kufah ada seorang pemuda berparas tampan, sangat rajin beribadah dan sungguh-sungguh. Dia juga termasuk salah seorang ahli zuhud.

Suatu ketika, dia singgah beberapa waktu di perkampungan kaum Nukha’ lalu tanpa sengaja dia melihat seorang wanita muda yang berparas cantik. Ia pun tertarik dengannya dan akalnya melayang-layang karenanya.

Rupanya, hal yang sama dialami si wanita tersebut. Pemuda ini kemudian mengirim seorang utusan untuk melamar si wanita kepada ayahnya namun sang ayah memberitahukannya bahwa dia telah dijodohkan dengan anak pamannya (sepupunya). Kondisi ini membuat keduanya begitu tersiksa dan teriris.

Lalu si wanita mengirim utusan kepada si pemuda ahli ibadah tersebut berisi pesan, ‘Sudah sampai ke telingaku perihal kecintaanmu yang teramat dalam kepadaku dan cobaan ini begitu berat bagiku disertai liputan perasaanku terhadapmu. Jika berkenan, aku akan mengunjungimu atau aku permudah jalan bagimu untuk datang ke rumahku.’

Si pemuda tampan pun segera membalas surat tersebut. “Aku tidak setuju dengan dua pilihan itu. Sesungguhnya, aku takut azab yang akan menimpaku pada hari yang besar jika aku berbuat maksiat kepada Rabb-ku. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.”

Tatkala si utusan kembali kepada wanita itu, lantas berkatalah si wanita, ‘Sekalipun yang aku lihat dirinya demikian namun rupanya dia juga seorang yang amat zuhud, takut kepada Allah? Demi Allah, tidak ada seorang pun yang merasa dirinya lebih berhak dengan hal ini (rasa takut kepada Allah) dari orang lain. Sesungguhnya para hamba dalam hal ini adalah sama.’

Tak lama, wanita cantik itu meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruk. Dia mulai beribadah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu kepada si pemuda.

Tubuhnya semakin kurus karena menahan rindu, sampai akhirnya dia meninggal. Pemuda itu pun sering menziarahi kuburan si wanita. Dia selalu menangis dan mendoakannya.

Pada suatu hari, dia tertidur di atas kuburan wanita itu. Lalu. pemuda itu mimpi bertemu kekasihnya.

Dalam mimpinya, dia bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

“Sebaik-baik cinta adalah cintamu. Sebuah cinta yang mampu menggiringmu menuju kebaikan.” jawab wanita itu.

“Jika demikian, ke manakah engkau akan menuju?” tanya pemuda itu lagi.

“Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tidak berakhir. Di surga, kekekalan bisa kumiliki dan tidak akan pernah rusak,” jawab wanita itu lagi.

“Aku harap, engkau selalu ingat kepadaku di sana. Sebab, aku di sini juga tidak pernah melupakanmu,” kata pemuda itu penuh harap.

“Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Aku meminta kepada Tuhan-ku dan Tuhanmu (Allah Swt.) agar nanti kita bisa dikumpulkan bersama. Bantulah aku dengan kesungguhanmu dalam beribadah!” jawab wanita itu.

Kemudian wanita itupun berpaling. Lantas aku berkata kepadanya, ‘Kapan aku bisa melihatmu.?’

Dia menjawab, ‘Engkau akan mendatangi kami dalam waktu dekat.’

Rupanya benar, pemuda itu tidak hidup lama lagi setelah mimpi itu, hanya tujuh malam. Dan, setelah itu, dia pun menyusul, berpulang ke rahmatullah.  []

Sumber: 100 Kisah Islami Pilihan/Penulis: Salman Iskandar/Penerbit: Mizan,2009

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline