Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Seandainya Tidak Ada Ali, Niscaya Umar Telah Celaka

0

Tidak pernah tercatat pada orang lain keutamaan seagung yang tertulis tentang Ali bin Abi Thalib, sekalipun ia banyak menuai cercaan dan makian di atas mimbar-mimbar salat Jumat sepanjang kekuasaan Bani Umayah dan orang-orang yang membencinya.

Mereka berusaha untuk mengurangi keutamaan Ali sampai tidak lagi ditemukan apa yang dapat dilakukan. Semua usaha menemui jalan buntu. Umar bin Khaththab berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Tidak ada seorang pun yang dapat meraih keutamaan seperti keutamaan yang dimiliki Ali. Keutamaan ini selalu menunjuk kan pemiliknya kejalan hidayandan mencegahnya dari kehancuran.”

Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib, “Bagaimana bisa engkau banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah saw?

Ia menjawab, “Bila aku bertanya niscaya Nabi memberi kabar kepadaku. Bila aku diam, Nabi yang memulai memberitahukan(nya) kepadaku.”

Dari Ibnu Umar, pada hari penetapan persaudaraan yang dilakukan Nabi kepada para sahabat, Ali bin Abi Thalib tiba dengan air mata berlinang. Rasulullah bersabda, “Engkau adalah saudaraku di dunia dan di akhirat.”

Dari Abi Laila Ghiffari berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Sepeninggalku akan terjadi fitnah. Bila fitnah itu terjadi maka hendaklah kalian berpegangan dengan Ali bin Abi Thalib. la adalah manusia pertama yang beriman kepadaku. Orang pertama yang menyalamiku di hari Kiamat. la adalah orang yang paling jujur (ash-ShiddiquI-Akbar). Ia adalah pemisah (al-Faruq) umat. la merupakan pemimpin (lebah jantan) kaum Mukmin sementara harta adalah pemimpin kaum munafik.”

Seluruh khalifah mengatakan bahwa Ali adalah yang paling mengetahui dan paling tepat dalam mengadili. Lebih dari itu, mereka sepakat bahwa scandainya Ali tidak ada niscaya mereka pasti celaka.

Ungkapan ini lebih dikenal dalam ucapan-ucapan Umar bin Khattab yang berbunyi, “Seandainya tidak ada Ali niscaya Umar telah celaka.”

Dari Jabir bin Abdillah Anshari berkata, “Kami tidak pernah mengenal orang-orang munafik kecuali lewat kebencian mereka terhadap Ali bin Abi Thalib.”

Ketika Muawiyah tiba di tempat terbunuhnya Ali bin Abi Thalib ia berkata, “Pemahaman yang detil dan ilmu telah lenyap dengan meninggalnya Ibnu Abi Thalib.”

Syabi berkata, “Keberadaan Ali bin Abi Thalib di tengah umat Islam laksana keberadaan Isa bin Maryam di tengah Bani Israil. Sebagian pengikutnya begitu mencintainya sehingga mereka sampai pada batasan kekafiran akibat kecintaan yang berlebihan. Sementara sebagian yang lain begitu membencinya sehingga mereka sampai pada batasan kekafiran akibat kebencian yang berlebihan.” []

Sumber: Teladan Abadi Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib / Penulis: Sayid Mundzir Al Hakim/ Penerbit: Al-Huda

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline