Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sang Penjaga Air Minum Kota Suci Makkah dan Madinah

222

Pada suatu musim kemarau, di waktu penduduk dan negeri ditimpa kekeringan yang sangat, keluarlah Amirul Mu’minin Umar bin Khatab bersama-sama Kaum Muslimin ke lapangan terbuka, melakukan shalat istisqa’ (minta hujan), dan berdo’a merendahkan diri kepada Allah yang Penyayang agar mengirimkan awan dan menurunkan hujan kepada mereka.

Umar berdiri sambil memegang tangan kanan Abbas dengan tangan kanannya, diangkatkannya ke arah langit sembari berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami pernah memohonkan hujan perantaraan Nabi-Mu, pada masa beliau masih berada di antara kami… Ya Allah, sekarang kami meminta hujan pula perantaraan paman Nabi-Mu, maka mohonlah kami diberi hujan!”

Belum lagi sempat Kaum Muslimin meninggalkan tempat mereka, datanglah awan tebal dan hujan lebat pun turunlah, mendatangkan sukacita, menyiram bumi dan menyuburkan tanah. Para sahabat pun berkata, “Selamat kami ucapkan untuk anda, wahai penyedia air minum Haramain (Mekah – Madinah)!” Sambil memagut dan menciumnya Serta mengambil berkat dengannya.

la adalah Abbas, paman Rasulullah, Rasul memuliakannya sebagaimana ia pun mencintainya, juga memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan budi pekertinya, sabdanya:

“Inilah orang tuaku yang masih ada. Inilah dia Abbas bin Abdul Multhalib, orang Quraisy yang paling pemurah dan teramat ramah!”

Abbas adalah seorang yang pemurah, sangat pemurah, seolah-olah dialah paman atau bapak kepemurahan. Sebagaimana Hamzah adalah paman Nabi dan Sahabatnya, demikian pula halnya Abbas paman dan teman sebayanya. Perbedaan umur antara keduanya hanya terpaut dua atau tiga tahun yakni lebih tua Abbas dari Rasulullah. Demikianlah, Muhammad saw dan pamannya Abbas merupakan dua orang anak yang hampir sebaya dan dua orang pemuda dari satu angkatan.

Ikatan kekeluargaan bukanlah satu-satunya alasan yang menyebabkan keakraban dan terjalin persabatan yang inti antara keduanya, tetapi persamaan umur tidak kurang berpengaruhnya. Hal lain yang menyebabkan Nabi menempatkan Abbas di tempat pertama, ialah karena akhlaq dan budi pekertinya.

Abbas selalu menjaga dan menghubungkan tali silaturrahmi dan kekeluargaan, dan untuk itu tidak segan-segan mengeluarkan tenaga ataupun harta. Selain itu, ia juga seorang yang cerdas, bahkan sampai ke tingkat genius dan dengan kecerdasannya ini yang disokong oleh kedudukannya yang tinggi di kalangan Quraisy, ia sanggup membela Rasul dari bencana dan kejahatan mereka, ketika beliau melahirkan da’wahnya secara terang-terangan. []

Sumber: Yang Merangkak Ke Surga, Sirah 60 Sahabat Rasulullah Saw/ Penulis: Khalid Muhammad Khalid/ Penerbit: Shahih, 2016

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More