Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sang Pemilik Dahi yang Bersinar

Berita tentang datangnya seorang rasul dari Mekkah sampai ke telinga Thufail bin Amru di Tihamah. la adalah seorang pemimpin kabilah Daus yang dihormati semua orang. Setiap hari, orang-orang berduyun-duyun datang ke rumahnya untuk mendengar petuah-petuahnya sekaligus mendapatkan makanan darinya. Sebagian yang lain datang untuk mendengarkan syair-syair gubahannya, karena Thufail adalah penyair yang tersohor pula. Kelembutan hati menuntunnya kepada ilham-ilham, hingga syair-syairnya laksana mantra sihir yang membuat siapa pun terbuai olehnya. Sebagai seorang yang berpendidikan, Thufail tergerak untuk datang ke Mekkah. la ingin mengetahui secara langsung perihal Rasulullah, Muhammad ﷺ.

Sesampainya di Mekkah, para pembesar Quraisy menyambutnya dengan baik. Thufail dijamu dan diperlakukan layaknya seorang pemimpin kabilah. Tak lupa, orang-orang kafir itu bermaksud menghasut Thufail agar tidak bertemu dengan Muhammad ﷺ, “Celaka! Sungguh celaka jika Thufail bertemu Muhammad. Thufail orang yang berpengaruh. Seluruh kaumnya akan beriman jika ia pun beriman!” keluh mereka.

Mereka bersepakat untuk berupaya mencegah Thufail bertemu Rasulullah. Ketika jamuan telah selesai, Thufail mengutarakan maksud kedatangannya ke Mekkah. Para pembesar Quraisy segera memberi jawaban panjang, “Tuan Thufail, rasul yang Anda dengar adalah laki-laki yang memecah-belah persatuan kami dan merusak hubungan persaudaraan kami. Kami sarankan, Anda tidak perlu bertemu dengannya, melihat keberadaannya, apalagi mendengarkan ucapannya. Sungguh kata-katanya seperti mantra sihir yang memisahkan anak dengan orang tuanya, budak-budak dengan majikannya, bahkan menjauhkan istri dari suaminya,” kata mereka.

Sebagian lagi mengatakan Muhammad adalah laki-laki yang tidak waras dan tidak perlu digubris ucapannya. “Baiklah, Tuan-Tuan. Sekarang saya tahu kebenarannya. Saya tak perlu lagi bertemu, apalagi mendengar ucapan rasul itu,” jawab Thufail. la pun segera berpamitan.

Sebelum pulang kembali ke Tihamah, Thufail berniat melakukan tawaf terlebih dahulu. Maka ia pun menuju Ka’bah. Dalam hatinya, redup sudah keinginan untuk mengetahui tentang Muhammad ﷺ.

Sesampainya di Masjidil Haram, Thufail terpana. la melihat seorang laki-laki tengah beribadah. Gerakannya berbeda dengan penyembahan berhala seperti yang biasa ia lakukan. Entah mengapa, Thufail merasa takjub melihat cara ibadah laki-laki itu. Usai beribadah, laki-laki itu membaca sesuatu. Lamat-lamat, Thufail mendengar suara merdu menyapa gendang telinganya. Hatinya berdesir. Itukah Muhammad? batinnya. Perlahan-lahan, Thufail mendekat. la terus mendekat dan mendengar bacaan laki-laki itu dengan jelas. Hilang sudah tekadnya untuk menyumbat telinganya dari ucapan Muhammad Semakin dekat, semakin ia ingin mendengar. Thufail diam terpaku hingga Rasulullah ﷺ menyelesaikan bacaannya dan beranjak meninggalkan masjid. Serta merta, Thufail mengikutinya. “Wahai Tuan Rasul, orang-orang menghalangiku untuk mendengar ucapanmu. Namun apa yang kudengar darimu adalah perkara baik, maka aku mengikutimu. Sudikah engkau menjelaskan ajaranmu kepadaku?” pinta Thufail.

Rasulullah tersenyum. Penuh kesabaran beliau menjelaskan tentang Islam. Beliau pun membacakan surah al-lkhlash dan al-Falaq. Hati Thufail semakin tergugah. “Sungguh, aku adalah seorang ahli syair. Namun belum pernah aku mendengar syair seindah itu. Belum pernah aku mendengar kalimat-kalimat yang lebih adil dari itu,” ucapnya jujur. “Wahai Rasulullah, ajarilah aku bersyahadat. Izinkan aku belajar Islam kepadamu,” lanjutnya penuh harap.

Wajah Rasulullah berbinar melihat kesungguhan niat Thufail. Sejak hari itu, Thufail menjadi bagian dari majelis taklim beliau.

Beberapa waktu kemudian, Thufail meminta Rasulullah mendoakannya untuk berdakwah di Tihamah, kampung halamannya. Sebelum pulang, ia meminta Rasulullah berdoa agar Allah memberinya bukti tentang kebenaran Islam. Rasulullah pun mengangkat tangan beliau dan berdoa, “Ya Allah, berikanlah satu pertanda sebagai bukti kepadanya.”

Thufail kembali kepada kaumnya. Sesampainya di hadapan mereka, Thufail memulai dakwahnya. Tiba-tiba, keluarlah cahaya dari dahinya hingga teranglah seluruh tempat itu. Thufail khawatir kaumnya akan menganggap cahaya itu adalah penyakit yang menimpa dirinya lantaran meninggalkan berhala. la pun lantas berdoa, “Ya Allah, pindahkanlah cahaya ini ke ujung tongkatku.” Masya Allah, cahaya itu beralih ke ujung tongkat Thufail hingga menyerupai lampu yang menggantung. Seluruh anggota kabilah Daus lantas menyatakan masuk Islam.

Thufail dan seluruh kaumnya kemudian datang kepada Rasulullah dan mengikuti perjuangan beliau. Perang demi perang mereka jalani hingga Islam berada pada masa kekhalifahan, usai Rasulullah meninggal. Sang pemilik dahi yang bersinar akhirnya menemui syahidnya di Perang Yamamah dan jenazahnya dikuburkan di medan tempur. []

Baca juga: Usaha Menipu Kaum Muslim

Sumber: 77 Cahaya Cinta Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: Al-Qudwah Publishing, 2015

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline