Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Dhimad Sang Ahli Penyakit Gila

Dhimad adalah lelaki dari Azd Syanu’ah, salah satu suku dari Yaman, yang mempunyai keahlian mengobati penyakit gila atau gangguan jin. Ketika ia sedang umrah di Makkah, ia sempat duduk di dalam majelis dimana di dalamnya ada Abu Jahal, Utbah bin Rabiah dan Umayyah bin Khallaf. Abu Jahal menyebut nama Muhammad yang dianggapnya sebagai pemecah belah persatuan, menganggap bodoh akal orang-orang kafir Quraisy, menuduh sesat orang-orang terdahulu yang meninggal dan memaki berhala-berhala sembahan mereka. Umayyah menimpali kalau Muhammad telah terkena penyakit gila.

Sebagai orang yang memiliki keahlian mengobati penyakit gila dan gangguan jin, Dhimad merasa terpanggil mendengar informasi tersebut, ia-pun berusaha menemui Rasullullah shalallahu’alaihi wa sallam. Tetapi baru keesokan harinya ia menemukan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam duduk di belakang maqam Ibrahim sedang shalat. Seusai Nabi shalat, ia pun mengemukakan apa yang didengarnya dari orang-orang Quraisy tersebut dan maksudnya untuk mengobati. Dhimad berkata, “Tidak ada seorangpun yang berbuat demikian, kecuali orang yang terkena gangguan jin!”

Mendengar ucapan yang bersifat menuduh tersebut, Rasullullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Segala pujian hanya milik Allah swt, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, beriman kepada-Nya dan bertawakkal kepada-Nya. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya.”

Dhimad terpesona mendengar perkataan Rasullullah shalallahu’alaihi wa sallam. Sebagai seorang yang terpelajar, ia mengetahui bahwa perkataan seperti bukanlah perkataan yang biasanya dilontarkan para penyair. Ia meminta beliau mengulangi perkataan itu beberapa kali dan Nabi shalallahu’alaihi wa sallam memenuhi permintaannya dengan sabar. Kemudian ia bertanya, “Kepada apakah engkau menyeru? Dan apa yang kuperoleh bila aku melakukannya?”

Nabi shalallahu’alaihi wa sallam menjawab, “Aku mengajakmu untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, kamu tinggalkan berhala-berhala dari tengkukmu, dan engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Dan ganjaran untukmu adalah surga.”

Serta merta Dhimad-pun menyambut seruan itu dan masuk Islam. Ia tinggal selama beberapa hari bersama Rasullullah shalallahu’alaihi wa sallam hingga mengetahui cukup banyak surah dari Qur’an, dan kemudian kembali kepada kaumnya.

Beberapa waktu berselang setelah Rasullullah shalallahu’alaihi wa sallam sudah di Madinah, beliau mengirim pasukan jamaah jihad di daerah Yaman. Di suatu daerah, pasukan tersebut memperoleh ghanimah 20 ekor unta, Ali bin Abi Thalib yang memimpin pasukan, kemudian mengetahui kalau daerah itu adalah daerahnya Dhimad al Azdy, maka ia menyuruh pasukannya untuk mengembalikan ghanimah tersebut, walau tidak bertemu secara langsung dengan Dhimad. []

Sumber: Kisah 25 Sahabat Nabi & Rasul Dilengkapi Kisah Sahabat Tabi’in dan Hikmah Rasulullah/ Kajian Islam 2

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline