Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Salman al-Farizi, Mengabdikan Diri Kepada Sang Guru

0

Salman al-Farizi adalah sosok pencari kebenaran sejati. Ia berguru kepada siapa pun yang dianggap memiliki kebenaran. Pernah suatu ketika ia berguru kepada seorang pemuka Nasrani. Diutarakanlah maksudnya untuk mencari kebenaran. Sang guru memperbolehkannya dengan syarat Salman harus bekerja dan menjadi khadimnya dalam segala hal.

Sebagai murid yang taat, Salman menyetujui. Ia sama sekali tidak menentang kehendak sang guru, walaupun gurunya adalah ornag yang tidka jujur. Beberapa kali didapatinya sang guru berbohong. Seringkali sang guru bertindak tidak sesuai dengan nuraninya. Tetapi Salman tetap mendedikasikan dirinya kepada sang guru. Tahun berganti tahun, sampai akhirnya sang guru mendekati ajal.

Bertanyalah Salman kepada gurunya, “Kemana lagi harus kucari guru yang dapat mengajari kebenaran?”

Sang guru berkata, “Tidak ada orang lain didaerah ini yang mengetahui arti kebenaran, tapi kamu bisa pergi ke Mosul (sekarang Iraq) untuk menemui seseorang yang bisa dijadikan guru.”

Pergilah Salman ke Mosul. Sama halnya seperti kepada guru yang pertama, ia menawarkan diri menjadi seorang pelayan. ia melayani segala yang dibutuhkan oleh gurunya. Guru yang kedua adalah ornag yang jujur. Salman merasa telah menemukan guru yang tepat. Namun tahun berganti tahun, sang guru mendekati ajalnya.

Salman pun kembali bertanya, “Kemana lagi harus kucari guru yang dapat mengajari kebenaran?”

Sang guru berkata, “Ajaran yang kamu terima dariku ini berasal dari Syam. Pergilah kamu kesana!”

Salman pun pergi menuju Syam. Hal yang sama pn terjadi hingga akhirnya Salman harus merantau ke Ammuriah (daerah jajahan Romawi) atas rekomendasi guru yang terakhir. Namun di tempat itu ia harus menjadi seorang budak karena dikhianati oelh seorang yang berjanji akan membawanya ke Mekah. Tapi di sisi lain, nasib Salman sungguh beruntung. Karena dengan menjadi seorang budak ia bisa sampai ke Madinah.

Karena beban kerja yang padat, Salman tidak mengetahui bahwa Rasulullah teah berhijrah ke Madinah. Ia mengetahui hal itu setelah tuannya menyampaikan berita bahwa ada ornag yang jujur yang baru berpindah dari Makkah ke Madinah.

Mendenagr hal itu, Salman pun menemui Rasulullah, tanpa menghiraukan bahwa dirinya masih menjadi seorang budak yang harus tunduk dibawah perintah majikannya. Kejujuran Rasulullah memperkuat keyakinan Salman bahwa beliau adalah guru yang sejati yang dapat menunjukan kebenaran yang selama ini ia cari.

Selayang pandang, hikayat Salman dalam menuntut ilmu menjadi cermin bagi kita. Ia begitu gigih berkelana demi menuntut ilmu. Hingga akhirnya ia mengabdiakn dirinya pada guru yang tepat. Ia pun berkhidmat kepada gurunya secara total sampai sang guru dipanggil oleh Tuhannya. []

Sumber: Akhlak Hubungan Vertikal/ Penulis: M. Alaika Salamulloh/ Penerbit: Pustaka Insan Madani, 2008

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline